KOTABUMI— Inspektorat Pemerintah Daerah Kabupaten Lampung Utara, menilai beberapa titik pekerjaan yang bersumber dari Dana Desa (DD) di Desa Karang Mulya Kecamatan Muara Sungkai, Kabupaten Lampung Utara. Menumukan banyak nya kejanggalan dan secara kasat mata tak sesuai acuan.
Hal itu diketahui setelah pihak Inspektorat melalui Inspektur Pembantu (Irban II) turun ke lokasi guna melihat kebenaran adanya informasi mengenai pekerjaan tersebut.
Diuraikan Hairul Fadilla (IrbanII). Inspektorat Lampung Utara, Saat dikonfirmasi Radar Kotabumi Kamis (16/8). Pihaknya sudah turun ke lokasi pekerjaan dan menegur keras pihak yang terkait. Setelah itu ditemukan banyak kejanggalan dengan kesimpulan bila pihak desa (Kepala Desa) harus membongkar atau memperbaiki beberapa titik pekerjaan yang ada.
Beberapa pekerjaan itu, Diantaranya pembuatan lapangan Bulu tangkis yang diketahui sudah retak. Dan yang lebih parah lagi pada pembangunan siring di desa tersebut yang terkesan tidak benar atau asal- asalan, Ujar Hairul.
“Setelah kita tau informasi itu (berita) kita langsung turun ke lokasi. Saya yang bukan orang teknis saja bisa bilang kalau kerjaan itu ga bener makanya saya suruh (perintahkan) kepala desa untuk bongkar dan memperbaiki pekerjaan itu (rusak).” Jelas Hairul, yang diamini sekretaris Inspektorat Sinar Barkah.
Selanjutnya, Kata Hairul, setelah peneguran itu lantas tidak dilepas begitu saja, pihaknya tetap melakukan pengawasan dan akan kembali mengecek pekerjaan tersebut. “Kita sudah tegur dan akan kita pantau terus. Setelah itu nanti kita kan turun lagi, bener di perbaiki atau tidaknya.” Pungkasnya.
Diberitakan sebelumnya,Pembangunan siring dan gorong-gorong di desa Karang Mulya Kecamatan Muara Sungkai, Lampung Utara (Lampura) disinyalir asal-asalan. Padahal pembangunan tersebut mempergunakan Dana Desa (DD. Dimana untuk pembangunan dimaksud dianggarakan sebesar Rp.500 juta lebih.Dari pantauan dilokasi diketahui pembangunan siring terlihat banyaknya tanah yang digunakan untuk menutup celah celah batu sebagai perekat, bukan dari semen. Dikhawatirkan pembangunan siring atau talud dimaksud tidak akan bertahan lama. Terlebih jika hujan turun, batu yang dipasang akan hanyut terbawa air.
Menurut keterangan sejumlah pekerja, mereka hanya melaksanakan perintah dari Sukarli kepala desa setempat. Dikatakan bahwa soal kualitas sepenuhnya menjadi tanggung jawab sang kepala desa. Soal adukan dan tanah pekerja enggan menjelaskan lebih lanjut. “tanyakan saja langsung ke kepala desa. Yang jelas kami membangun untuk keseluruhan 1600 meter. Pembangunan talud dimaksud disebar didua dusun. Untuk didusun I dibangun sepanjang 800 meter, dengan kedalaman 50 cm, lebar atas 50 tinggi 40 cm.”kata Ejang, salah satu pekerja.
Sementara salah seorang warga setempat yang enggan disebutkan namanya mengatakan, jika pembangunan talud yang dilaksanakan kepala desa tidak sesuai sebagaimana yang diinginkan.
Pekerjaannya asal jadi dan terkesan menghemat matrial. “masa perekat batu dengan batu mempergunakan tanah sementara semennya sedikit. Bagaimana mungkin dapat menahan air ketika hujan turun. Kami yakin dalam waktu dekat talud tersebut akan bubar,”ujarnya.
Terpisah Sukarli yang dihubungi via ponselnya terkesan menutupi pekerjaan tersebut. Baik itu soal jumlah anggaran dan volumenya.”Panjangnya 1600 (meter) kalau ga salah. Nah saya juga lupa itu (anggaran). Kalau selesai itu belum, masih ada yang didusun 2,” ujar kepala desa. Disinggung soal pekerjaan yang asal-asalan, Sukarli enggan memberikan penjelasan.(ndo/her)






