Menu

Mode Gelap
Wartawan AJNN Aceh Dilaporkan ke Polisi, Ini Sikap Tegas PJS Perhimpunan Jurnalis Siber Provinsi Lampung Resmi Dibentuk P3K Bakal Tak Diusulkan Lagi Pelajar SDN Handuyangratu Masih Belajar di Eks Balai Desa Disdikbud Persiapkan SDM Dalam Era Pembelajaran Digital

Headline · 9 Feb 2020 21:14 WIB ·

DBD Mewabah, Dinkes Lampura Hanya Pasrah ? Minimnya Anggaran Dan Alat Jadi Alasan


 Caption : 
Renita (21), Salah seorang pasien DBD asal Kecamatan Abung Barat, Kabupaten Lampung Utara saat tengah menjalani perawatan di Rumah Sakit Ryacudu Kotabumi belum lama ini. Foto :  Pranata Riano Perbesar

Caption : Renita (21), Salah seorang pasien DBD asal Kecamatan Abung Barat, Kabupaten Lampung Utara saat tengah menjalani perawatan di Rumah Sakit Ryacudu Kotabumi belum lama ini. Foto : Pranata Riano

KOTABUMI—Demam Berdarah Dengue (DBD) yang menyerang Kabupaten Lampung Utara (Lampura) telah memakan korban jiwa. Sementara jumlah pasien terus mengalami peningkatan signifikan, dari hari ke hari. Sayangnya, Dinas Kesehatan (Dinkes) setempat, sepertinya kesulitan untuk segera mengatasi kondisi yang tengah dialami oleh kabupaten tertua di Provinsi Lampung tersebut. Kurangnya alat dan keterbatasaan anggaran dijadikan alasan.

Neli Kusriyanti, Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Lampura, saat ditemui Radar Kotabumi menjelaskan, jika alat fogging yang dimiliki Dinkes hanya ada delapan unit. Sedangkan jumlah puskesmas yang tersebar di 23 kecamatan berjumlah 27 unit. “Kita kekurangan alat untuk fogging, Itu yang mesti diketahui masyarakat,” ujar Neli Kusriyanti, Minggu (9/2).

Menurutnya, faktor alat dan minimnya anggaran itu pulalah yang membuat Dinkes Lampura terkesan bekerja tak maksimal, bahkan terkesan lamban. Padahal pihaknya mengklaim telah melakukan sejumlah upaya antisipasi dalam menekan tingkat penyebaran jumlah virus (suspect) yang disebabkan oleh gigitan nyamuk jenis Aedes Aegypti tersebut. Terlebih dengan jumlah wilayah endemik yang tersebar di lima titik kecamatan, jadi kendala sendiri yang mesti dihadapi.

“Lima wilayah tersebut meliputi Kecamatan Kotabumi, Abung Selatan, Kotabumi Selatan, Kotabumi Utara serta Sungkai Selatan. Riset Penyelidikan Epidemiologi (PE) yang dilakukan tim, lima lokasi itulah pusat endemiknya,” ucapnya.

Masih kata dia, dengan hanya mengandalkan delapan alat yang dimiliki Dinkes saat ini. Jumlah tersebut sangatlah tak sebanding bila harus mengcover semua wilayah yang tersebar di seluruh kabupaten Lampura. Belum lagi, biaya yang mesti dikeluarkan dalam satu kali pengoprasionalan kegiatan fogging. Neli menyebut anggaran yang harus dikeluarkan berkisar diangka Rp. 3 jutaan dengan maksimal jarak tempuh dari titik awal sepanjang 100 meter.

“Itu sudah full termasuk obat insektisidanya. Lebih kurang satu fokus fogging itu habis 40 Liter. Artinya sekitar 40 rumah yang bisa dilakukan penyemprotan,” terangnya.(ano/her)

Selengkapnya, baca edisi cetak 10 Februari 2020

Artikel ini telah dibaca 49 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Gelar Rapimnas 12 Mei 2026, DPP Evaluasi Persiapan DPD Menuju Konstituen Dewan Pers

7 April 2026 - 13:56 WIB

Terkait WFH Pemkab Lampura Tunggu Provinsi

2 April 2026 - 10:44 WIB

Bupati Targetkan 30 Titik Rumah Ibadah Diperbaiki

1 April 2026 - 16:10 WIB

Kasus Dugaan Pengeroyokan Ibu Hamil di Pekanbaru, APH Didesak Tetapkan Tersangka

31 Maret 2026 - 19:20 WIB

Capaian Akte Lahir Lampaui Target

16 Maret 2026 - 20:03 WIB

Ini Tenaga Kesehatan Yang Berjaga di 3 Poskotis

16 Maret 2026 - 12:51 WIB

Trending di Headline