Oleh : HERY MAULANA (Plt.Pimred Radar Kotabumi)
Ass..wr.wb
Apa yang dilakukan Gugus Tugas percepatan penanggulangan coronavirus disease 2019 (Covid 19) Lampung Utara (Lampura), mestinya dapat melegakan. Ada optimis disana, bahwa pandemi ini akan segera berakhir.
Harusnya optimistis itu terbangun dan menguat. Melihat bagaimana strategi yang dilancarkan Gugus Tugas memutus rantai penularan. Kemudian upaya penanganan kasus. Baik Orang Dalam Pemantauan (ODP), Pasien Dalam Pengawasan (PDP), Orang Tanpa Gejala (OTG) maupun yang terkonfirmasi positif.
Sayangnya, sikap itu harus jungkir balik. Realita lapangan menggerus asa dalam ketidakpastian. Apalagi setiap penjelasan yang disampaikan, terkesan sebatas retorika. Tidak secara kongkrit dan komprehensif. Gugus Tugas seakan mengenyampingkan fakta lapangan yang sejatinya sangat vital.
Misalnya menyatakan 7600 lebih pendatang yang tiba di Lampura sudah melewati masa inkubasi virus 14 hari. Karenanya mereka tidak masuk dalam ODP dan tidak perlu dilakukan pemantauan.
Pernyataan ini sangat berani dan spekulatif. Karena tidak ada perlakuan khusus yang diberlakukan Gugus Tugas. Tidak ada Rapid tes, apalagi PCR dan Swab. Tidak juga dilakukan isolasi dengan pengawasan ketat Gugus Tugas. Lantaran sejauh ini yang dilakukan hanya mendata dan menghimbau, agar warga tersebut melakukan isolasi mandiri.
Menjadi sangat konyol menjadikan himbauan sebagai landasan sebuah keberhasilan. Karena berapa banyak warga yang peduli dan memahami arti himbauan itu. Terlebih ditengah situasi perekonomian yang sulit, himbauan akan lenyap tak berbekas ditelan dorongan untuk dapat bertahan hidup. Mereka tetap akan beraktivitas dan abaikan himbauan itu.
Masa inkubasi virus 14 hari juga tidak boleh dijadikan ukuran. Sebab ini juga masih debatable dikalangan para ahli. Inkubasi tidak lagi hanya dalam kurun waktu 14 hari.
Fakta terbaru adalah munculnya OTG. Orang yang tampak sehat, tetapi telah terpapar. Mereka ini menjadi sangat potensial menyebarkan virus.
Dalam penanganan kasus, Gugus Tugas juga masih semi terbuka. Data yang disajikan terkadang membingungkan nalar. Jumlah OPD yang cenderung stagnan, ditengah ‘serbuan’ pemudik. Mereka umumnya datang dari wilayah episentrum dan zona merah. Mereka ini mestinya berstatus OPD dan dilakukan tes serta pengawasan ketat.
Begitu pula data PDP. Setelah 3 PDP meninggal dan 1 yang dirawat dinyatakan negatif. 3 PDP meninggal, dinyatakan lantaran mengidap penyakit lain seperti HIV dan TBC. Lalu yang dirawat dinyatakan menderita DBD. Artinya analisa awal penetapan PDP sangat meragukan. Padahal dengan status PDP ada konsekwensi logis, baik bagi pasien, keluarga maupun tim medis. Karena harus diterapkan protokoler covid, termasuk ketika meninggal dunia.
Realita ini mesti menjadi catatan penting bagi Gugus Tugas Lampura. Penanganannya harus lebih serius, tidak remeh remeh. Satukan visi untuk mengakhiri pandemi ini. Paling tidak memutus rantai penyebaran dan memperkecil jumlah korban. Kerja keras dan ikhlas menjadi modal dasar untuk mewujudkan itu. Wallohualam bisawab
Wass.. (**)

BERANDA 




