Mungkin bagi sebagian orang meraih gelar Sarjana Strata (1), tidaklah sulit. Terlebih mereka yang berasal dari keluarga mampu. Dimana semua fasilitas untuk meraih gelar itu dimiliki. Tapi tidak demikian dengan Zuheri ketua Pemuda Muhammadiyah (PM) Lampung Utara (Lampura). Lelaki yang akrab disapa bang Juhe ini, benar-benar harus berjuang untuk menyelesaikan pendidikannya pada Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Kotabumi (UMKO). Sehingga kemudian, dirinya turut dalam daftar lulusan yang diwisuda.
Juhe, harus meluangkan waktu untuk dapat mengikuti perkuliahan. Sementara dirinya harus juga berada ditengah keluarga. Bersama Muryanti (44) dan seorang anaknya yang bernama Anisa Marssela Zuhti (11). Sementara sebagai suami, Juhe berkewajiban untuk menafkahi keluarganya. Memenuhi semua kebutuhan keluarga utamanya kebutuhan pokok.
Situasi ini tentu memaksanya untuk melakukan pembagian waktu yang ketat. Bagaimana cita-citanya menjadi sarjana tercapai, tanpa harus mengorbankan keluarga. Demikian pula dengan pembagian kebutuhan, antara kebutuhan keluarga dan kebutuhan dalam menyelesaikan pendidikan.
Disinilah pentingnya peran keluarga. Bagaimana memberikan suport penuh agar semua itu dapat berjalan beriring. Kuliah tetap jalan, tetapi tidak menelantarkan kebutuhan keluarga. “Alhamdulillah, istri dan anak saya mengerti itu bahkan memberikan semangat tersendiri untuk saya menyelesaikan pendidikan ini,” ujar Juhe, usai mengikuti prosesi wisuda yang di gelar UMKO, kemarin (15/12).
JUhe menegaskan, gelar sarjana yang diperolehnya merupakan sebuah tanggung jawab moral untuk berbuat ditengah masyarakat. Bukan sekedar untuk mempermudah dalam mencari kerja. Bagaimana mengimplementasikan gelar sarjana itu untuk sebesar-besarnya kemanfaatan bagi masyarakat. Itu yang lebih penting dilakukan. “Bagaimana ilmu yang didapat bisa memiliki azas manfaat bagi keluarga dan masyarakat itu yang lebih penting,” ujarnya (ndo/her)






