KOTABUMI —Hujan, tidak mematahkan semangat Ahmad Sugiri (67), untuk mengais rezeki. Menjadi tukang becak adalah pekerjaan yang selama 25 tahun ini ia geluti. Walau beberapa tahun belakangan, pekerjaannya itu kurang diminati warga. Sebab banyak warga lebih memilih jasa seorang tukang ojek, atau angkutan kota(angkot) dari pada memakai jasa tukang becak.
Praktis dari tahun ke tahun, pendapatannya terus menurun. Terlebih ditengah pandemi saat ini. Aktivitas masyarakat dibatasi, sehingga pendapatannya menjadi sangat minim. Namun Warga Mekarsari RT 001 / RW 004, Kecamatan Abung Tengah, Kabupaten Lampung Utara (Lampura) itu, masih saja bertahan. Ia tetap mangkal di seputaran pasar pagi dan diseputaran Pos Kota, Kotabumi.
Kepada Radar Kotabumi, Ahmad Sugiri bapak dari delapan anak ini, menceritakan perjalanan hidupnya. Bagaimana ia harus menghidupi delapan anaknya itu. Ia hanya mengandalkan pendapatan dari mengayuh becak. Meski demikian, ia mampu menghantarkan lima anaknya kejenjang pernikahan. Hanya tinggal tiga anak saja yang saat ini masih bergantung hidup dengannya.
Namun belakangan beban hidup semakin dirasa berat. Meski hanya untuk membiayai kehidupan dan sekolah tiga anaknya saja. Ini lantaran, jasa becak sudah banyak ditinggalkan warga. Ada yang merasa, jasa tersebut kurang manusiawi. Karena penumpang duduk santai, sementara sipengayuh becak tersengal dan kelelahan. Apalagi disaat pandemi Covid-19, penumpang menjadi sangat sepi. Dalam sehari ia hanya mampu mengumpulkan uang sekitar Rp.15 ribu. Sangat jauh dari cukup untuk menghidupi keluarganya dirumah. “Paling banter cuma Rp.15 ribu mas, ya gak cukuplah. tapi mau gimana lagi,” ujarnya, Rabu (10/2).
Ahmad Sugiri berharap, pandemi covid-19 dapat segera berakhir, sehingga penumpang becak nya bisa ramai seperti dulu, karena dari situlah dia menafkahi keluarganya. (cw.10/her)






