KOTABUMI–Demi terwujudnya lingkungan belajar yang berkualitas dalam mencegah ketertinggalan belajar(Learning Lost), Bunda PAUD Kabupaten Lampung Utara(Lampura) Hj. Nur Endah Sulastri didampingi Kabid PAUD Dikmas Yeni Sulistina dan jajarannya mengikuti Sosilasiasi Fasilitasi Berdasarkan Standar Nasional Pendidikan (SNP) secara Virtual Zoom di Rumah Dinas Bupati Lampura.
Nur Endah menerangkan, PAUD merupakan jenjang pendidikan dengan suatu upaya pembinaan yang ditujukan bagi anak sejak lahir sampai usia enam tahun.
Layanan PAUD dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan, untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut, yang diselenggarakan pada jalur formal, non-formal, dan informal.”Layanan PAUD sangat penting untuk memastikan anak dapat mengoptimalkan diri di usia emas pertumbuhannya, baik secara kognitif, motorik, maupun psikologis. Namun demikian, masih kerap ditemui perbedaan persepsi dan miskonsepsi yang berkembang di tengah masyarakat mengenai layanan PAUD yang berkualitas, sehingga menghasilkan respon dan tingkat dukungan publik yang berbeda-beda,”ucap Nur Endah, Senin (6/9).
Dalam mewujudkan lingkungan belajar berkualitas sambung Endah, setidaknya ada tiga hal yang perlu diperhatikan untuk mengetahui apakah sebuah layanan PAUD berkualitas.
Mulai dari adanya kegiatan pembelajaran yang beragam dan dilakukan melalui cara yang sesuai untuk anak usia dini, yaitu melalui bermain.
Karena bermain dan belajar mampu menumbuhkan motivasi intrinsik untuk belajar sehingga anak lebih bersemangat untuk beradaptasi dan mempelajari hal-hal baru.”Di sisi lain, bermain juga termasuk upaya mengasah kemampuan pra literasi dan pra numerasi yang dapat dilakukan melalui kegiatan membaca buku bacaan kepada anak,”paparnya.
Selanjutnya tambah Nur Endah, kegiatan pembelajaran harus bersifat kontekstual dan bermakna bagi anak.
Kegiatan pembelajaran perlu dikaitkan dengan pengalaman anak, serta meningkatkan kompetensi dirinya untuk dapat berperan dalam kegiatan mereka sehari-hari.
Materi pembelajaran pun perlu dibuat selaras dengan nilai sosial budaya lingkungan agar menumbuhkan kesadaran bagi anak bahwa dirinya adalah bagian dari lingkungannya.
Kemudian membangun interaksi positif antara pendidik dengan sang anak, tidak terjadi hukuman fisik, dan komunikasi yang kasar terhadap anak.
Seperti yang kita ketahui bersama, pembelajaran satu arah dan dilakukan dengan metode drilling bukanlah pembelajaran berkualitas karena berpotensi menimbulkan dampak negatif pada anak.”Dengan demikian, pengajar tidak boleh memaksakan kehendak sendiri dalam proses pembelajaran, tetapi harus disesuaikan dengan karakteristik dan kemampuan masing-masing anak,”pungkasnya.(ria/her)






