Menu

Mode Gelap
Wartawan AJNN Aceh Dilaporkan ke Polisi, Ini Sikap Tegas PJS Perhimpunan Jurnalis Siber Provinsi Lampung Resmi Dibentuk P3K Bakal Tak Diusulkan Lagi Pelajar SDN Handuyangratu Masih Belajar di Eks Balai Desa Disdikbud Persiapkan SDM Dalam Era Pembelajaran Digital

Headline · 27 Okt 2021 21:37 WIB ·

Sebanyak 110 Lokasi Irigasi Lampura Rusak Parah


 caption : Ini salah satu diantara 110  Irigasi yang kondisinya rusak parah  Perbesar

caption : Ini salah satu diantara 110 Irigasi yang kondisinya rusak parah

KOTABUMI— Perbaikkan saluran irigasi di wilayah Kabupaten Lampung Utara (Lampura), membutuhkan setidaknya Rp1,6 triliun. Hal ini untuk meningkatkan pendapatan petani dalam menjaga produksi hasil pertaniannya.

Khususnya di areal persawahan sebagai menunjang ketahanan pangan dijalankan pemerintah. Sesuai instruksi pusat, pasalnya, di lapangan hal demikian mengurangi hasil panen padi milik para petani

Yang diperkirakan dapat panen 3 kali dalam satu tahun, saat ini hanya ada 2 kali saja. Itu pun mereka yang coba-coba mengadu peruntungan (berani) dimasa tanam gaduh seperti saat ini.

“Bisa dibayangkan kalau sarana-prasarana pendukungnya baik, seperti aliran irigasi baik. Kita bisa melihat di wilayah kabupaten/kota lain yang lebih maju, seperti Kota Metro misalnya pasti akan lebih sejahtera. Dengan kualitas dan kuantitas gabah atau beras dihasilkan para petani sawah di kabupaten kita cintai ini, “kata Kepala Dinas PUPR Lampura, Syahrizal Adhar, Rabu, (26/10).

Untuk itu, pihaknya telah menurunkan tim guna memantau kondisi di lapangan sesuai harapan masyarakat. Khususnya mereka berprofesi sebagai petani padi mengharapkan saluran irigasi selama ini mengaliri sawahnya dapat di perbaiki. Sebab, itu menjadi kendala dalam meningkatkan hasil panennya.

“Dari hasil turun lapangan beberapa pekan belakangan, yang membutuhkan perhatian serius karena tingkat kerusakan parah itu ada sekitar 110 daerah irigasi (DI) tersebar ditiga kecamatan. Yakni 30 DI di Abung Tinggi; Abung Tengah (30); Tanjung Raja (50). Dengan asumsi awal kebutuhan anggarannya mencapai Rp1,6 triliun lebih, termasuk bendung dan bendungan didalamnya,” tambah Kabid SDA, Romzi.

Merujuk data DPUPR Lampura, jumlah daerah yang dialiri saluran irigasi terdapat 198 mengalami kerusakan, mulai tingkat sedang sampai parah. Dengan rincian, 158 DI diantaranya sesuai surat keputusan (SK) Menteri PU dan Perumahan Rakyat (PR) No.14/2015 tentang kriteria dan penetapan status irigasi.

Sementara sisanya ada 40 DI melalui SK Bupati, dengan luasan areal persawahan total 13.790 Hektar.

Untuk daerah irigasi dialiri oleh air berasal dari bendungan Way Ratem (tehknis) dan lainnya (nontekhnis).

“Bila ini dapat ditingkatkan, kemungkinan besarnya tingkat produksi padi kita dapat berkali-kali lipat dari tahun ini. Mulai dari kualitas sampai dengan kuantitasnya, sehingga dapat mendukung program pemerintah swasembada pangan. Belum lagi turunannya, seperti tani ikan bahkan mengarah ke pariwisata dapat meningkatkan pendapatan petani,” ujarnya.

Utuk saat ini, sambungnya, hanya diproyeksikan pembiayaan berasal dari APBD Lampura tahun 2022 baru dikisaran Rp2 miliar – Rp5 miliar. Yang hanya dapat mengakomodir 2 – 3 daerah dialiri aliran irigasi, sementara kebutuhan menjadi prioritas diatas 100 DI karena mengalami kerusakan yang parah.

“Itu yang menjadi keluhan petani dibawah, dan saat ini seperti informasi kami terima hasil panen padi kita berada diangka 300 ribu ton/tahun, “imbuh Kasi Perencanaan, Bidang SDA, DPUPR Lampura, Bambang.

Berdasarkan pantauan dilapangan, Selasa, 26 Oktober 2021, saat awak media ikut dalam giat Tim DPUPR Lampura melihat kondisi dilapangan. Yakni daerah irigasi yang berada dialiran Way (sungai) Kulur, Desa Subik, Kecamatan Abung Tengah cukup memprihatinkan.

Mulai dari daerah ditinggikan macam embung atau sering disebut bendung disana kerusakan cukup parah, sehingga air tak dapat naik kepermukaan lebih tinggi.

Padahal wilayah itu banyak sawahnya, belum lagi saluran primer, sekunder dan tersiernya mengalami hal serupa. Sehingga air tidak sampai ke areal persawahan biasa ditanami petani sampai kebawah, dan itu beralih fungsi sementara waktu ditanami palawija macam jagung dan lainya untuk mengisi kekosongan.

“Ya begitu mas, dari pada tidak ada hasil mending ditanami jagung atau tanaman palawija lain yang memiliki masa tanam relatif pendek sebelum ada airnya. Disini rata-rata ditanami 1 kali/tahun padi, dengan hasil 6 ton/masa tanam. Dengan jumlah hamparan sekitar 300 Ha, kalau dimaksimalkan dapat menghasilkan 7.200 ton beras inikan tidak cuma 3.600 ton saja, “ujar Ketua Petani Pengguna Air, Kartoyo. (ozy/rnn)

Artikel ini telah dibaca 11 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

3.590 Peserta Pawai Songsong Ramadhan Dilepas

11 Februari 2026 - 09:48 WIB

Hamartoni Dapat Kado Terindah Dari PWI Saat HPN

9 Februari 2026 - 17:51 WIB

Saat Lantik Sekda, Wabup Tegaskan Jadi Pejabat Jangan Nyogok

9 Februari 2026 - 17:44 WIB

Penetapan Tersangka Wartawan Ryan di Babel Cacat Prosedur, Hentikan Kriminalisasi Pers!

9 Februari 2026 - 09:30 WIB

Mahmud Buka Musda II PJS Babel, Rikky Permana Kembali Pimpin DPD

8 Februari 2026 - 07:28 WIB

Hasil Konferja, Provinsi Lampung Bakal Jadi Tuan Rumah HPN 2027

7 Februari 2026 - 20:26 WIB

Trending di Headline