KOTABUMI — Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Lampung Utara (Lampura), Anton Sugiharto, melalui bidang Humas, Agung Setiadi, menyampaikan atas peringatan dini untuk meningkatkan kewaspadaan datangnya La-Nina menjelang akhir tahun. La Nina merupakan fenomena Suhu Muka Laut (SML) di Samudera Pasifik bagian tengah mengalami pendinginan di bawah kondisi normalnya. Pendinginan SML ini mengurangi potensi pertumbuhan awan di Samudera Pasifik tengah dan meningkatkan curah hujan di wilayah Indonesia secara umum. La Nina juga berpotensi menimbulkan bencana hidrometeorologi, seperti banjir, banjir bandang, tanah longsor, angin kencang, puting beliung, dan sebagainya.

Berdasarkan monitoring terhadap perkembangan terbaru dari data suhu permukaan laut di Samudera Pasifik bagian Tengah dan Timur, menunjukkan bahwa saat ini nilai Anomali telah melewati ambang batas La-Nina, yaitu sebesar -0.61 pada Dasarian I Nopember 2021.
“Kondisi ini berpotensi untuk terus berkembang dan seluruh masyarakat Indonesia khususnya Lampura, harus segera bersiap menyambut kehadiran La-Nina menjelang akhir tahun 2021 hingga awal tahun 2022 yang di perkirakan akan berlangsung dengan intensitas Lemah dan Sedang, setidaknya hingga Februari 2022” paparnya, Selasa (2/11) sekira pukul 15.00 WIB.
Didasarkan pada kejadian La-Nina tahun 2020 lalu lanjut Agung, hasil kajian BMKG menunjukkan bahwa curah hujan mengalami peningkatan pada November, Desember, dan Januari 2022. Maka La-Nina tahun ini di prediksikan relatif sama dan akan berdampak pada peningkatan curah hujan bulanan berkisar antara 20-70% di atas normalnya. Dengan adanya potensi peningkatan curah hujan pada periode musim hujan tersebut maka perlu kewaspadaan dan kesiapsiagaan terhadap potensi lanjutan dari curah hujan tinggi yang berpotensi memicu bencana hidrometeorologi.
“BMKG Lampura mengingatkan agar pemerintah daerah, masyarakat, dan semua pihak terkait dengan pengelolaan sumber daya air dan pengurangan risiko bencana yang berada di wilayah yang berpotensi terdampak La-Nina, agar bersiap segera untuk melakukan langkah pencegahan dan mitigasi terhadap peningkatan potensi bencana Hidrometeorologi seperti banjir, longsor, angin kencang yang dapat menyebabkan puting beliung ataupun terjadinya badai tropis” jelasnya.
Selain itu Agung juga mengatakan, untuk saat ini di wilayah Kabupaten Lampura, potensi banjir, intensitas curah hujan, angin kencang, gempa, dan badai petir masih di kelas menengah atau normal, yaitu masih di batas 110 hingga 300 MM untuk curah huja, 3 sampai 15 knot untuk potensi angin kencang yang berhembus dari Timur laut ke Tenggara, dengan kecepatan 5 sampai 28 KM/jam, begitupun dengan potensi gempa dan badai petir, semuanya masih dalam batas Normal.
“Namun, saya harapkan kepada masyarakat Lampura tidak boleh abai dengan batas normal itu. Karena kondisi batas normal itu, memiliki potensi besar yang dapat memicu peningkatan faktor cuaca. Dilampura, hingga saat ini masih sering terjadi hujan deras, di sertai kilat petir, dan angin kencang” pungkasnya. (fer/her)






