KOTABUMI – Meski keberadaan minyak goreng mengalami kelangkaan, namun harga jual berbagai macam panganan gorengan semacam tahu isi goreng, pisang goreng, bakwan, serta lainnya tidak mengalami kenaikan. Hal ini berdasarkan pantauan Radar Kotabumi di sejumlah tempat penjualan panganan ringan tersebut. Para pedagang gorengan mengaku tetap menjual produk mereka dengan harga normal, mengingat minyak goreng dapat dipakai berulang kali untuk memasak panganan tersebut.
Sukadi(50) salah seorang pedagang gorengan di Jalan Serma Peturun Tanjungaman, Kecamatan Kotabumi Selatan mengaku harga minyak goreng sulit didapat, bahkan dirinya harus membeli dengan harga di atas normal yakni Rp 45 Ribu – Rp 50 Ribu per dua kilogram(kg). Namun, tidak merubah harga jual dagangan gorengannya yakni seribu rupiah per gorengan.”Tetap seribu rupiah, karena kan minyak goreng dapat digunakan berulang kali,” ujarnya saat dijumpai lapaknya, sekitar pukul 13.00 WIB, Rabu(23/2).
Menurutnya, para pedagang tidak mungkin menaikan harga gorengan, khawatir para pelanggan menjadi kabur. ”Harga seribu rupiah saja, mereka sudah bilang mahal. Masak iya mau kita naikan lagi,”imbuhnya dia.
Meski begitu, Suhadi mengungkapkan, dampak langka dan mahalnya minyak goreng keuntungannya yang didapatnya mengalami penurunan pasca kelangkaan tersebut.
“Kalau sebelumnya, kita bisa mendapat keuntungan bersih Rp 1,5 juta. Kalau sekarang, Rp 1,5 juta itu belum(pendapatan, Red) bersih. Karena ada biaya tambahan dalam membeli minyak goreng,”kata dia.
Hal senada diungkapkan Suyono(45) pedagang gorengan yang biasa mangkal di jalan Ahmad Akuan, Kelurahan Rejosari, Kecamatan Kotabumi. Dia berharap, pemerintah dapat mencarikan solusi dalam mengatasi kelangkaan minyak goreng tersebut.
“Kalau terus – terusan begini bisa gulung tikar kami sebagai pedagang kecil dengan modal pas-pasan,”singkatnya.(rid)






