KOTABUMI – Mejelang Hari Raya Idul Adha sejumlah bahan pokok di pasar tradisional mengalami lonjakan drastic. Kenaikan sejumlah bahan pokok tersebut menyebabkan minat pembeli berkurang.
Pantauan Lampung newspaper(group Radar Kotabumi), harga cabai mengalami kenaikan hingga 100 persen di pasaran. Harga cabai merah yang sebelumnya dikisaran Rp40 Ribu, kini menembus angka Rp 80 Ribu per kilogramnya.
Harga tersebut juga berlaku pada cabai rawit. Selain harga cabai yang naik, bahan bumbu dapur lainnya seperti bawang merah kini harga jualnya berkisar diangka Rp55 ribu dari harga normal Rp30 ribu. Sedangkan untuk bawang putih, pedagang beralih ke bawang putih impor dengan harga yang dipatok diangka Rp20 ribu per kilogram.
Minah (38) salah satu pedagang mengatakan, kenaikan harga tersebut sudah berlangsung cukup lama. Berdasarkan keterangannya, pihak pemerintah daerah belum pernah turun lapangan. Kenaikan berbagai harga bahan pokok belakangan ini sangat mempengaruhi minat beli pelanggannya, sehingga omset penjualannya ikut turun drastis.
“Sudah hampir setengah bulan lebih harga cabai, bawang, naik semua harga-harganya,”ujarnya, saat dikonfirmasi di kios dagangannya, Minggu(19/6) pagi
Ia menambahkan, kenaikan harga kali ini dianggap yang paling luar biasa dibandingkan dengan momen lebaran idul fitri. Baik pedagang, maupun pembeli sama-sama terkena dampaknya. Pedagang kesulitan untuk menjajakan dagangannya, sedangkan pembeli yang rata-rata kaum emak-emak terpaksa mengakali jumlah pembelian mereka sehari-hari, yang biasanya sanggup membeli sekilo kini mereka hanya beli setengahnya.
“Modal kita belanja sekarang harus dua kali lipat karena kenaikan sudah sampai seratus persen. Omzet pun sekarang berkurang drastis, ngabisin dagangan sekarang agak lama, dan itu berpengaruh pada bobot dagangan yang berkurang,” ucapnya
Ia berharap kepada Pemkab Lampung Utara melalui dinas terkait, dapat mencarikan solusi untuk menstabilkan kembali harga bahan pokok di pasaran.
Novi (45)salah satu pembeli mengeluhkan lonjakannya harga bahan pokok dipasar. Selain harus memikirkan keperluan dapur, memutar otak juga memikirkan keperluan keluarga dirumah. berharap kondisi ini dapat segera dibenahi dan kembali normal,
“Ya tolong lah kepada pemerintah agar, stabilkan lagi harga kebutuhan dapur, kalau kayak gini terus bisa ngejerit juga emak emak,” tuturnya.(hsn/red)






