KOTABUMI-Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak(DPP dan PA) Kabupaten Lampung Utara(Lampura) menggelar Rapat Koordinasi(Rakor) pencegahan dan penanganan tindak kekerasan terhadap perempuan dan anak Kabupaten Lampung Utara tahun 2022.
Kepala Dinas PP dan PA Lampura dr. Hj. Maya Natalia Manan yang diwakili Sekretarisnya Sundari menjelaskan, saat ini kasus kekerasan terhadap perempuan terutama anak memang tidak ada habisnya.
Untuk itu dengan adanya Rakor ini diharapkan kasus-kasus terhadap perempuan terutama anak bisa di tekan dan berkurang.”Sebagai perpanjangan tangan kami mohon bantuannya kepada semua elemen Masyarakat jika terjadi kasus baik terhadap perempuan dan kekerasan terhadap anak untuk segera lapor kepada kami. Dengan bwgitu si pelaku akan segera ditangkap dan korban dapat segera mendapat pendampingan,”ujar Sundari, Rabu (13/7).
Dari Dinas PP dan PA sendiri lanjutnya, untuk tempat laporan Masyarakat pihaknya memiliki UPTD dan di bawah ada Satgas PP dan PA di setiap Desa.
Sehingga jika terjadi kasus kekerasan terhadap perempuan bisa segera lapor.
Atau jika Masyarakat takut untuk lapor kepada PP dan PA bisa langsung laporkan kepada pihak yang berwajib.
Untuk Masyarakat jangan pernah takut karena ada Undang-Undang(UU) yang melindungi para pelapor.”Memang kebanyakan para pelaku ini adalah orang terdekat korban ataukah tetangga dekat korban. Untuk itu peran orang tua dalam hal ini harus ada waktu bagi anaknya.
Hal ini utamanya terjadi karena orang tuanya kebanyakan sibuk dan waktunya habis untuk anaknya.
Apalagi saat ini jaman semakin canggih banyak juga terjadi kasus pernikahan di bawah umur. Ini yang harus kita tekan,”kata dia.
Ditempat yang sama Kanit PPA Polres Lampura Meta menambahkan, selain kasus KDRT saat ini kasus yang paling banyak adalah kasus cabul dan pemerkosaan yang menimpa anak di bawah umur.
Selain menimpa anak dibawah usia tujuh tahun juga banyak menimpa para pelajar, untuk itu diharapkan peran Dinas Pendidikan dan Kebudayaan(Disdikbud) untuk lebih ektra memberikan wejangan kepada para peserta didik terhadap seks bebas.”Untuk kekerasan seksual yang terjadi terhadap anak itu bukan hanya karena tersangka haus akan seksual, namun karena ada faktor lain diantaranya karena dendam dengan orang tuanya.
Untuk itu diminta kepada seluruh elemen masyarakat terutama orang tua untuk mengambil peran bersama mebantu kami mencegah, menanggulangi dan meminimalisir kasus kekerasan terhadap anak,”pungkasnya.(ria/rid)






