KOTABUMI-Kewaspadaan Dini Masyarakat hingga saat ini masih sangat rendah. Hal itulah yang membuat Kasus Demam Berdarah Dengue(DBD) di Kabupaten Lampung Utara (Lampura) terus mengalami penambahan.
Hal itu terbukti hingga tanggal 15 Juni 2023 DBD di Lampura sudah mencapai 80 Kasus.”Kewaspadaan gejala dini yang saat ini masih rendah.
Harusnya partisipasi Masyarakat itulah yang diperlukan untuk membersihkan lingkungan agar tidak membuat nyamuk berkembang biak.
Jika Partisipasi Masyarakat ini berjalan, Insyaallah Lampura bisa bebas dari BDB,”ucap Pelaksana tugas(Plt) Kasi Pengendalian Pencegahan Penyakit Menular(P2M) Santi Darini SKM. M. Kes., mewakili Kabidnya dr. Dian Mauli, Kamis(15/6).
80 Kasus itu lanjut Santi, terdiri dari bulan Januari 28 kasus, Februari 21 kasus, Maret 10 kasus, April sembilan kasus, Mei 21 kasus dan Juni hingga tanggal 15 ada dua Kasus yang memiliki Kewaspadaan Dini Rumah Sakit(KDRS).
Dalam memperingatu Hari DBD se ASEAN yang jatuh pada tanggal 15 Juni
Indonesia khususnya Kabupaten Indonesia Bebas Demam Berdarah.”Tantangan kita dalam mencegah DBD ini, Masyarakat lebih memilih untuk Fogging dari pada mereka melakukan kewaspadaan Dini.
Padahal Fogging hanya membunuh nyamuk dewasa, sementara perkembangan jentik nyamuk masih berjalan. Ini yang harus dipahami oleh Masyarakat,”ucapnya.
Seharusnya kewaspadaan Dini bisa dilakukan dengan Pemberantasan sarang nyamuk(PSN) dan menerapkan 3M Plus yakni menguras, mengubur dan menutup barang bekas plus saat tidur harus menggunakan kelambu dan Lotion anti nyamuk.
Seperti yang dilakukan Dinkes Lampura di Kelurahan Tanjung Aman membagikan Bubuk Abate, serta memberi tahu bagaimana cara penggunaannya.”Mudah-mudahan dengan partisipasi masyarakat kasus DBD kita bisa menurun.
Dan kita akan wujudkan Kabupaten Lampura bebas DBD,”harapnya.
Masyarakat juga tambah Santi, harus mengerti dan memahami Demam Tinggi belum tentu DBD.
Anak bisa dikatakan DBD itu memiliki gejala yakni anak demam diatas 38 derajat ditandai dengan adanya bintik merah.
Jika sudah ada gejala ini segera bawa ke dokter atau ke rumah sakit jangan sampai telat.
Kemudian terjadinya penurunan nafsu makan, Mual dan demam yang naik turun.
Jika sudah seperti ini langsung di bawah saja ke Rumah Sakit agar di ambil sampel darah dan dilihat Trombositnya.
Jangan sampai di diamkan saja,
Karena bisa Plus itu.”Hati-hati demam itu bisa turun, pada saat turun itulah harus waspada disitulah masa kritis.
Tahun 2022 lalu ada 163 Kasus, mudah-mudahan tahun ini bisa menurun jumlahnya,”pungkasnya.(ria)
Pihak Dinkes Lampura melalui Bidang P2M saat menyerahkan bantuan bubuk Abate, Kamis(15/6).






