Menu

Mode Gelap
Wartawan AJNN Aceh Dilaporkan ke Polisi, Ini Sikap Tegas PJS Perhimpunan Jurnalis Siber Provinsi Lampung Resmi Dibentuk P3K Bakal Tak Diusulkan Lagi Pelajar SDN Handuyangratu Masih Belajar di Eks Balai Desa Disdikbud Persiapkan SDM Dalam Era Pembelajaran Digital

Opini · 5 Des 2025 10:15 WIB ·

Surat Cinta untuk Hutan Kita Lampung Utara


 Surat Cinta untuk Hutan Kita Lampung Utara Perbesar

Penulis : Evicko Guantara

​Lihatlah ke sekeliling, dan dengarkan. Suara duka yang baru saja menyayat hati dari Aceh, Medan, hingga Tapanuli dan wilayah lainnya. Itu bukan sekadar berita di layar kaca tapi tangisan alam yang telah membangunkan kita,

​Saudara-saudara kita kehilangan rumah, harta, bahkan nyawa, disapu oleh air bah yang murka. Dan kenapa alam murka? ‘Mungkin’ bentengnya telah dicabuti. Karena di hulu sungai, pohon-pohon penjaga itu telah tiada dan ini adalah pelajaran berdarah yang diletakkan tepat di depan pintu.

​Kita, di Lampung Utara diberkahi punya perbukitan hijau, kita punya aliran sungai yang besar. Kita punya hutan, warisan yang tak ternilai. Namun, di balik keindahan itu, tersimpan ancaman yang sunyi. Jika daya dukung lingkungan kita digerogoti oleh tangan-tangan yang tak peduli, jika keserakahan merajalela, maka cepat atau lambat, giliran kita yang akan diterjang air mata dari langit.

​Tolong, jangan tunggu tragedi itu datang!

​Jangan sampai kita sibuk mengorek puing, sibuk mencari siapa yang patut disalahkan, setelah lumpur dan air mata membanjiri Lamoung Utara. Pemerintah Kabupaten (Pemkab) harus bergerak, bukan sekadar menunggu instruksi Provinsi. Ini bukan lagi soal kewenangan di atas kertas; ini soal nyawa dan masa depan anak cucu kita.

​Hutan kita adalah suatu janji. Ia adalah benteng terakhir yang menahan amukan air dan longsor. Jika benteng itu jebol karena dibiarkan kekayaan hutan dijarah, maka air bah itu tidak akan bertanya apakah kita pejabat, petani, atau pedagang. Ia akan menyapu siapa saja tanpa pandang bulu.

​Kita harus berdiri tegak bersama. Mari kita jadikan diri kita mata dan telinga bagi kelestarian hutan.

​Ini bukan lagi tanggung jawab Pemerintah semata. Ini adalah cinta kolektif yang harus kita tunjukkan.

​Tanyakan pada diri sendiri, Kekayaan apa yang ingin kita wariskan? Tumpukan kayu hasil jarahan yang mendatangkan bencana, atau lingkungan yang aman, yang membiarkan anak-anak kita tidur nyenyak saat hujan turun?

​Mari kita jaga hutan Lampung Utara, hari ini. Sebelum terlambat. Sibuklah sebelum terjadi, agar kita tidak perlu berduka setelah terjadi.

Artikel ini telah dibaca 56 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Curat Berkedok Satgas? Raibnya Timah di Smelter Sitaan Negara Uji Nyali Negara Menegakkan Hukum

1 Januari 2026 - 00:06 WIB

Insiden Doorstop Jambi: Humas Seharusnya Jadi Mitra, Bukan Penghalang

13 September 2025 - 16:27 WIB

MERDEKA! 80 Tahun Indonesia Merdeka, Bagaimana dengan Kemerdekaan Pers Kita?

17 Agustus 2025 - 12:22 WIB

Menjaga Marwah Jurnalisme: Wartawan Tak Bisa Rangkap Jabatan, Apalagi ASN

30 Juni 2025 - 15:21 WIB

Penyelundupan Timah dan Premanisme Tambang: Gagalnya Aparat, Lemahnya Negara Hukum

31 Mei 2025 - 19:58 WIB

Calon Independen, Ancaman atau Harapan Baru Demokrasi Lokal? (Opini)

24 April 2025 - 18:05 WIB

Trending di Opini