KOTABUMI — Meski saat ini pemerintah tengah gencar-gencarnya terhadap upaya penanganan corona virus 2019 (covid-19). Namun disisi lain penanganan kasus demam berdarah dengue (DBD) tak boleh terlupakan. Pasalnya, hingga kini kasus DBD masih kerap ditemukan di sejumlah fasilitas pelayanan kesehatan. Bahkan ditiap harinya masih ada saja pasien penderita DBD mengalami perawatan di sejumlah Rumah Sakit diwilayah Kabupaten Lampung Utara (Lampura).
“Saya apresiasi langkah pemerintah terhadap upaya menangkal ancaman sebaran virus Corona. Tapi yang diperlu diingat, jangan abai dengan penyakit lainnya. Salah satunya kasus DBD,” ungkap Guntur Laksana, anggota komisi IV DPRD Lampung Utara kepada Radar Kotabumi kemarin (3/5).
Menurutnya, kasus DBD tidak hanya terjadi di wilayah perkotaan. Bahkan sakit yang disebabkan oleh gigitan nyamuk jenis Aedes Aegepty tersebut ikut menyasar beberapa titik wilayah pedesaan. Dari pantauan yang dilakukan olehnya belum lama ini, Guntur menyebut, beberapa pasien DBD masih mengalami perawatan di sejumlah rumah sakit. Beberapa rumah sakit dimaksud, yakni Rumah Sakit Daerah (RSD) Ryacudu Kotabumi serta RS Maria Regina.
“Contoh terbaru yakni desa yang ada di wilayah di Abung Timur dan Abung Selatan. Belum lama ini masih terdengar sejumlah warga yang terserang DBD dan dirawat di beberapa rumah sakit,” katanya.
Guntur mengingatkan, selain fokus terhadap percepatan penanganan Covid-19. Pemerintah tidak boleh abai terhadap salah satu penyakit yang berpotensi terhadap jiwa seseorang. Sebab kata dia, bukan tidak mungkin bila lamban dalam penanganan, jenis penyakit satu ini akan berpotensi terhadap jiwa penderitanya. Terlebih dimusim penghujan, jenis nyamuk ini akan banyak bermunculan ditempat-tempatnya yang memiliki genangan air.
“Boleh fokus pada ancaman sebaran corona. Tapi porsi DBD juga penting jadi catatan. Penyakit DBD jangan dianggap remeh. Lambat sedikit penanganannya, nyawa taruhannya. Tentu kita tidak ingin ini terjadi,” ucapnya.
Untuk itu, ia berharap, perhatian terhadap kasus DBD jangan sampai terlupakan. Apalagi belakangan diketahui, corona virus (Covid-19) semakin berbahaya bila orang tersebut memiliki riwayat penyakit penyerta yang dideritanya. Bahkan tak jarang ditemukannya kasus kematian sesorang positif Covid-19, ternyata memiliki penyakit pendamping yang ada pada tubuh seseorang. Sebab imunitas pada tubuh seseorang, menjadi faktor penting terhadap ancaman jenis Covid-19 ataupun penyakit lainnya.
“Banyak informasi dari para ahli, kalau seseorang terjangkit corona positif, dan ternyata ada penyakit pendamping. Potensi untuk pemulihan pasien tersebut akan memakan waktu lama,” terangnya.
Berdasar data yang diperoleh Radar Kotabumi dari pipahk Rumah Sakit Daerah (RSD) jumlah masyarakat yang terjangkit DBD hingga akhir bulan April 2020 terdapat 29 kasus. Ia menyebut, jauh mengalami penurunan dari angka sebelumnya. Asumsi itu mengacu pada total kasus DBD dalam dua bulan terakhir. Tercatat pada bulan Februari jumlah kasus DBD dilaporkan sebanyak 195 orang dan sebanyak 137 data kasus di Maret 2020.
“Alhamdulillah jumlah Masyarakat yang terjangkit DBD menurun drastis. Bulan ini hanya ada 29 kasus,” terang Entina Yati, Humas RSD Ryacudu Kotabumi.
Kendati demikian, ada baiknya seluruh masyarakat untuk tetap menjaga kesehatan dan kebersihan. Tak kalah penting, yakni dengan Penerapan Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Apalagi dalam masa pandemi Covid-19. Tentunya tidak hanya sebatas diri sendiri, melainkan seluruh anggota keluarga, serta orang-orang di lingkungan sekitar.
“Pemberantasan sarang nyamuk(PSN) harus tetap dilaksanakan. Pola hidup sehat harus senantiasa diterapkan. Semua demi menjaga kesehatan kita,” imbaunya.(ano/fer/her)






