KOTABUMI — Dinas Kesehatan (Diskes) Kabupaten Lampung Utara (Lampura), belum dapat menyimpulkan, apakah ada unsur kelalaian dan buruknya pelayanan pada Rumah Sakit (RS) Hi. M. Yusuf, Kalibalangan, Abung Selatan, terkait proses persalinan Desi Irawati (27). Dimana proses persalinan itu mengakibatkan Desi beserta anak dalam kandungannya meninggal dunia, pada Rabu (17/6) lalu, sekira pukul 06.00 WIB.
Kepala Diskes Lampura, Maya Metissa yang dihubungi Radar Kotabumi, mengatakan dirinya belum dapat menyimpulkan terlalu jauh. Termasuk soal tindakan yang akan diambil oleh Diskes Lampura. Apalagi Maya belum membaca klarifikasi Direktur RS.H.M. Yusuf, Kalibalangan, dr. Sri Haryati melalaui aplikasi WhatsApp yang disampaikan. “Saya belum bisa menyimpulkan terlalu jauh, atas tindakan yang akan diambil Diskes. Saya baru saja menerima pesan WhatsApp dari dr. Sri Haryati, namun pesan itu belum sempat saya baca. Saya juga belum bertemu dengan pihak keluarga pasien.” terang Maya, sekitar pukul 15.30 WIB, Selasa (23/6).
Disampaikan Maya, jika dalam waktu dekat ini, Diskes Lampura akan segera turun ke lokasi (RS.H.M.Yusuf Kalibalangan,red) untuk mengkroscek kebenaran informasi tersebut. “Dalam minggu-minggu ini, Tim dari Dinkes Lampura, akan turun ke lokasi, guna mengkroscek kebenaran informasi tersebut,” ujarnya.
Meski menyatakan belum dapat menyimpulkan, tapi dipenghujung pembicaraan Maya menyatakan pendapatnya. Bahwa dalam kasus tersebut bukanlah suatu kelalaian, hanya suatu keterlambatan saja.
Terpisah Kapolres Lampura, AKBP Bambang Yudho Martono, melalui Kasat Reskrim AKP Gigih Andri Putranto, membenarkan adanya laporan Hamroni terkait kematian istri dan anak dalam kandungan tersebut. Disampaikan, atas laporan tersebut pihaknya sedang melakukan proses penyelidikan (Lidik).
“Suami korban telah membuat laporan ke Polres Lampura dengan bukti laporan yang tertuang dalam LP/593/B/VI/2020/Polda Lampung/SPKT RES LU, tentang setiap tenaga kerja kesehatan yang melakukan kelalaian berat yang mengakibatkan kematian, pada Sabtu (20/6) sekira pukul 18.00 WIB. Sejauh ini laporan tersebut sedang dalam tahap Lidik,” paparnya.
Diberitakan sebelumnya, Hamroni (30) warga Kelurahan Rejosari, Kecamatan Kotabumi, Kabupaten Lampung Utara (Lampura), tidak dapat menahan kesedihannya. Tenaga honorer di Sekretariat DPRD Lampura itu harus kehilangan istri dan anak tercintanya yang masih dalam kandungan, untuk selama-lamanya. Desi Irawati (27) sang istri, yang juga tenaga honorer di sekretariat DPRD Lampura, menghembuskan nafas terakhirnya dalam perjuanganya melahirkan anak ketiganya yang diprediksi berjenis kelamin perempuan itu. Pihak Rumah Sakit Hi. M Yusuf Kali Balangan Kecamatan Abung Selatan, mengatakan terjadi Emboli Air Ketuban (Kondisi ketika air ketuban masuk dan bercampur ke dalam sistem peredaran darah sang ibu-red). Namun Amroni menduga, kematian istri dan anaknya, akibat kelalaian dan buruknya pelayanan yang dilakukan pihak Rumah Sakit tersebut.
Karenanya pada Sabtu (20/6) sekira pukul 18.00 WIB, Amroni melaporkan peristiwa itu ke Mapolres Lampura. Laporan tersebut tertuang dalam LP/593/B/VI/2020/Polda Lampung/SPKT RES LU, tentang setiap tenaga kerja kesehatan yang melakukan kelalaian berat yang mengakibatkan kematian.
Sementara itu Direktur Rumah Sakit Hi.Muhammad Yusuf dr. Sri Haryati yang dikonfirmasi Radar Kotabumi, menjelaskan bahwa pasien Desi dan bayi didalam kandungannya meninggal dunia dengan diagnosa Embilo Air Ketuban.
“Berbagai upaya tindakan medis telah dilakukan untuk menyelamatkan Desi dan bayinya. Namun keduanya tidak bisa diselamatkan,” ungkapnya.
Dijelaskannya, pasien Desi masuk sekitar pukul 10.00 WIB dan tenaga medis langsung menangani pasien dengan mengecek kondisi ibu dan bayi. Selanjutnya, setiap 4 jam sekali tenaga medis terus mengontrol kondisi pasien hingga malam masih bukaan 1. Lalu, Bidan yang berjaga menganjurkan untuk dioperasi sesar. “Namun keluarga pasien memutuskan untuk berembuk terlebih dahulu dengan keluarga lainnya, hingga pada akhitnya, tepat di pertengahan malam keluarga bersedia untuk dioperasi,” terangnya.
Pihak rumah sakit melakukan pemeriksaan darah dan lainnya untuk persiapan operasi. “Pasien dipindahkan keruang operasi, dengan kondisi terjadi perubahan tekanan darah turun mendadak, napas tersengal-sengal, gelisah, dan seluruh tubuh dingin. Saya selaku dokter jaga dipanggil, saya melihat ada tanda tanda emboli air ketuban. semua obat masuk untuk menstabilkan tensi nadi oksigen yang ada pada tubuh pasien, setelah itu memanggil keluarga pasien dan menjelaskan kondisinya,” paparnya.
Ditambahkannya, Pihak rumah sakit sudah menyarankan untuk dirujuk, tapi pihak keluarga ingin pasien tetap minta dirawat di RS itu. “Semua upaya telah dilakukan untuk membantu pasien tapi Allah berkehendak lain,” pungkasnya. (fer/her)

Dinkes Lampura Belum Bersikap 




