KOTABUMI–Warga dikompleks perumahan Nuwo Mafan, yang terletak di Jalan Alamsyah RPM tepatnya didekat RM Taruko I, tidak dapat hidup nyaman. Pasalnya kompleks perumahan tersebut selalu direndam banjir, setiap hujan turun. Hujan sedang berdurasi sekitar 1 jam saja, membuat kompleks perumahan itu terendam banjir hingga setinggi lutut orang dewasa. Apalagi jika diguyur hujan lebat dalam tempo yang cukup lama. Warga disana harus mengungsi, karena ketinggian air bisa mencapai 1 hingga 1,5 meter. Sementara perabotan rumah tangga menjadi rusak. Karena tidak ada waktu lagi untuk mengevakuasi barang-barang tersebut.
Mubarok, salah seorang penghuni kompleks perumahan tersebut menuturkan, ia membeli perumahan tersebut sekitar 5 tahun lalu. Selama itu pula, dirinya direpotkan oleh persoalan banjir yang terus terjadi. Ia bersama warga lain, mencoba mencari tahu apa penyebab banjir yang terus mendera itu. Ternyata gorong-gorong dijalan Alamsyah RMP terlalu kecil. Padahal gorong-gorong itu menjadi satu-satunya pembuangan air dari kompleks perumahan Nuwo Mafan. Akibatnya, air yang keluar tidak sebanding dengan curahan air hujan yang datang. Sehingga banjir tidak dapat dielakan. “Mestinya gorong-gorong itu diperbesar. Kerena gorong-gorong itu berada dijalan provinsi, Kami berharap pemerintah provinsi Lampung dapat memperbaikinya,” ujar Mubarok.
Ditambahkan Mubarok, ia bersama warga lain juga sudah beberapa kali menyampaikan keluhan itu pada pihak pengembang. Namun sampai saat ini belum ada perbaikan yang dilakukan. Banjir terus berulang setiap kali hujan turun. Sementara situasi tersebut membuat banyak penghuni kompleks yang over kridit atau menjual rumahnya. Karena tidak tahan menjadi langganan banjir. “Mestinya pihak pengembang juga berupaya untuk memperbaiki atau paling tidak mendorong pemerintah provinsi untuk memperbesar gorong-gorong itu.” pungkas Mubarok.
Terpisah Sekretaris Kabupaten Lampura, Hi. Lekok mengatakan, diwilayah tempat tinggal perumahan Griya Maffan tersebut, memang dataran rendah dan rawan banjir. Bahkan, di wilayah itu, merupakan tempat persawahan yang memiliki genangan air.
“Jadi, oleh pengembang di bangun perumahan. Jika hujan, pasti air mengalir ke permukaan lebih rendah. Nah, perumahan itu, tempat air bersarang. Jadi ke banjiran kan,” jelas Sekkab Lampura, ketika tadi malam.
Untuk itu, pihaknya akan mempelajarinya dan sekaligus mencari solusi konkrit hingga wilayah itu tidak tergenang air lagi. “Pasti kita akan cari solusinya. Pihak pengembang juga, Jangan tinggal diam. Kita pecahkan solusinya sama-sama,” tegas Lekok.
Pemerintah Kabupaten Lampura, kata Lekok, akan segera membahasnya. “Apakah nantinya gorong-gorong itu akan kita besarkan, atau kita cari solusi tempat dimana air akan di alirkan. Semuanya masih kita pelajari dulu. Tim BPBD juga sudah ada dilokasi untuk membantu warga evakuasi barang,” kata Lekok.
Seluruh satker, kata dia, nantinya juga akan dilibatkan untuk mencari sulusi yang paling baik. Sebab, hal tersebut (banjir,Red) tidak dapat berlarut-larut. Itu semua, harus dicari solusinya yang konkrit. “Pasti secepatnya kita akan cari jalan keluarnya,” tegasnya.
Sementara Kepala BPBD Kabupaten Lampura, Karim SR, mengatakan tim tanggap siaga BPBD Kabupaten Lampura, menurunkan sebanyak tiga regu, terdiri dari 20 orang. Tim tersebut, nantinya akan membantu mengevakuasi barang-barang warga yang terdampak banjir. Selain tim siaga, pihaknya juga menurunkan perahu karet untuk membantu evakuasi warga yang terjebak banjir tersebut.
“Ketinggian air sekitar 1 meter lebih. Air hujan ini, tidak bisa di tampung oleh drainase yang ada di wilayah itu. Sehingga air menyasar masuk ke rumah warga, dikarenakan perumahan ini datarannya sangat rendah,” terang Karim SR.
Ia juga mengaku, masih mendata warga yang terdampak banjir tersebut. Menurutnya, tim yang turun masih fokus untuk mengevakuasi warga dan barang-barang berharga yang ada di perumahan. “Kita masih mendata. Yang jelas, kita fokus memantu evakuasinya dulu. Untuk kerugian juga belum bisa di taksir, karena tim masih berkerja di lokasi,” kata Karim.
Untuk data saat ini, terdapat 46 KK yang terendam banjir paska hujan lebat selama tiga jam. “Sementara data itu yang kita peroleh. Bisa saja lebih, karena saat ini keadaan gelap. Lampu di wilayah itu sengaja dipadamkan, agar tidak terjadi hal yang diinginkan saat evakuasi berlangsung,” kata Karim SR.
Sayangnya, managemen pengembang perumahan Griya Maffan, hingga berita ini di tulis belum bisa dikonfirmasi. Meski salah satu nomor telepon yang berhasil dihubungi, hingga kini belum berhasil di angkat.
(ndo/rnn/her)






