KOTABUMI — Rintik hujan tidak menjadi aral bagi Dewi Nopasari (28) untuk mengais rejeki. Dalam benak ibu wanita muda itu, bagaimana ia dapat memberi makan kedua orang anaknya yang masih kecil-kecil. Ia tidak ingin hanya bergantung pada suaminya yang juga berprofesi sebagai pemulung. Sebab ia tahu pasti, pendapatan suaminya sebagai pemulung, tidak dapat memenuhi kebutuhan keluarga.
Terlebih dalam kondisi pandemi Covid-19 belakangan ini. Hasil yang diperoleh jauh berkurang, karena tidak lagi dapat leluasa mencari barang-barang rongsokan yang laku dijual. Apalagi, harga yang diberikan pengepul untuk setiap barang rongsokan yang diperoleh juga cenderung turun. Alasannya, biaya pengiriman barang yang meningkat dan keterbatasan armada pengiriman.
Dewi yang tadinya acuh dengan air hujan yang mengguyur tubuhnya, terpaksa menghentikan langkah dan berteduh di halte yang ada dijalan itu. Ia sendiri sejatinya masih tetap bersemangat untuk melangkah. Namun niatnya itu luluh, saat melihat dua buah hatinya yang bakal diguyur hujan. Ia khawatir, tubuh mungil keduanya tidak akan dapat bertahan dari guyuran hujan dan jatuh sakit. Itulah yang memantapkan hatinya untuk berteduh, meski karung putih berukuran besar yang biasa dipanggul dipunggungnya, baru terisi sebagian. Itu mengisyaratkan keping uang yang dapat dikaisnya belum seberapa. Belum mencukupi untuk biaya makan pada hari itu.
Warga RT 001/RW 002 kelurahan Cempedak Kecamatan Kotabumi, Lampung Utara (Lampura) itu berdoa, kiranya hujan dapat reda. Kemudian ia dapat menelusuri jalan Jendral Sudirman, mengais dan terus mengais. Sebuah doa yang dipanjatkan dari halte yang berada persis didepan kantor Pemerintahan Daerah (Pemda), Lampura. Kantor dimana para pejabat dengan kendaraan mewahnya terparkir disana. Sangat ironi, ternyata tidak jauh dari mereka yang duduk dikursi empuk itu, ada seorang ibu muda yang berjuang mempertahankan hidup sebagai pemulung.
Istri dari Abdul Rahman (30) ini, tidak ada pilihan lain. Anak-anaknya harus bersekolah. Rumah kontrakan juga harus dibayar setiap bulannya. Belum lagi keperluan rumah tangga lainnya. Terkadang ia harus membawa serta anaknya untuk mengais rejeki. Ketika sang anak rewel tidak mau ditinggal dirumah. Perasaan sedih itu tidak dapat ditutupi. Sebagai orang tua, tentu ia ingin melihat anaknya bermain layaknya anak-anak lain.
“Mau gimana lagi mas, tidak ada pekerjaan lain yang dapat menghasilkan uang untuk mencukupi kehidupan kami sehari-hari. Terpaksa kami jadi pemulung mas, yang penting halal.” ujar Dewi nopasari, ketika Radar Kotabumi mendekatinya dan mengajaknya berbincang seputar kehidupannya, Kamis (28/1).
Dewi bertekat, apa yang dialaminya itu tidak terjadi pada anak-anaknya kelak. Biarlah ia hidup menderita asalkan anak-anaknya dapat makan dan bersekolah. Terkadang ia merasakan kehidupan ini tidak adil. Keluarganya yang papa, tidak tersentuh bantuan yang digelontorkan pemerintah. Seperti Bantuan Sosial Tunai (BST), Program Keluarga Harapan (PKH) dan Bantuan Sosial (Bansos) lainnya. Hatinya terkadang miris, melihat ada banyak tetangganya yang berkehidupan jauh diatasnya, justru menerima bantuan pemerintah. “Mau gimana lagi mas kami orang kecil, meski diprotes juga siapa yang mau mendengarnya,” ucapnya lirih. (Cw.10/her)






