KOTABUMI–Masyarakat diminta untuk tidak mengucilkan Korban asusila. Utamanya yang berada dilingkungan korban, seperti keluarga, tetangga, teman dan lingkungan sekolah. Sebab akan berdampak pada semakin terpuruknya kejiwaan korban yang membuat lamanya proses pemulihan. Karena korban jelas mengalami trauma mendalam dari kejadian yang menimpanya.
Hal itu diungkapkan Pendamping atau Psikolog Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak(DPP dan PA) Kabupaten Lampura Dian Ratna Hapsari, usai mengunjungi korban Asusila yang ada di Desa Baru Raharja Kecamatan Sungkai Utara Kabupaten Lampung Utara(Lampura) beberapa hari lalu. Dian Ratna Hapsari meminta kepada seluruh masyarakat yang ada di lingkungan sekitar dan lingkungan sekolah untuk memberikan motivasi atau paling tidak, tidak mengucilkan korban asusila tersebut.”Saya minta Masyarakat sekitar dan teman-teman sekolah untuk tidak mengucilkan korban. Terlebih korban trauma dengan kejadian itu, dan akan semakin terpuruk jika di kucilkan,”ujar Dian, Kamis (28/10).
Korban Asusila sendiri lanjut Dian, seharusnya memamgendapatkan perhatian lebih dari pihak keluarga.
Apalagi korban yang berusia sembilan tahun tersebut jauh dari Ibu nya yang saat ini sedang bekerja jauh.
Mengingat korban hanya mendapat kasih sayang dari Ayahnya dan saudara kandungnya saja sebagi orang terdekat.
Saat ini korban menjadi anak yang tidak banyak bicara, apalagi saat ditanya tentang kejadian malang tersebut korban langsung terdiam dan saat ditanya hanya menganggukkan dan menggelengkan kepala saja.”Korban butuh kasih sayang lebih dari orang tuanya terutama dari ibunya.
Karena saat-saat seperti ini ibu korban sangat di butuhkan,”paparnya.
Kepada orang tua tambah Dian, diminta untuk lebih aktif lagi dalam mengawasi anaknya.
Beri pemahaman kepada anak tentang seks edukasi yakni dilarang menggunakan baju dan rok yang pendek.
Kemudian berdandan saat ke sekolah atau berdandan sejak memasuki usia remaja.
Beri tahu anak agar jangan sampai di senggol-senggol laki-laki, apalagi diminta untuk melakukan hal yang tidak baik atau senono.”Beri tahu anak untuk tidak mendekati yang bukan muhrimnya, apalagi sampai berdempet-dempetan.
Berikan pemahan kepada anak tentang bahayanya ketika sudah mengenal laki-laki saat masih sekolah. Lalu lakukan pengawasan dan sesering mungkin anak putri kita untuk mengobrol,”pungkasnya.(ria/her)






