KOTABUMI–Drainase yang dibangun di Jalan Lintas Tengah Sumatera yang berada di Desa Bandarputih, Kotabumi Selatan, Lampung Utara (Lampura) ambrol. Panjang drainase yang ambrol itu sekitar lima meter, yang berada di sisi kiri jalan dari arah Bandarlampung. Selain ambrol, kerusakan drainase juga terlihat di titik lain yang saling berdekatan. Kuat dugaan jika kerusakan dan ambrolnya drainase dengan panjang sekitar 1 Km itu, lantaran kualitas pembangunan yang buruk. Dugaan itu semakin menguat, sebab pembangunan drainase dimaksud, belum sampai satu bulan.

Sejak awal pembangunan drainase itu diprotes Warga Desa Bandar Putih. Bahkan pembangunannya sempat diprotes warga pada 28 November lalu
Melihat kondisi drainase yang ambrol dan rusak, diduga pelaksana proyek tidak mengindahkan spesifikasi yang diharuskan. Itu terlihat dari pemasangan material yang terkesan hanya menempel di tanah. Belum lagi telah terdapat keretakan di sejumlah drainase tersebut.
Menurut sejumlah warga disana, drainase itu ambrol sudah sejak seminggu terakhir. Padahal pembangunan talut itu baru dimulai sekitar bulan September lalu.
Jika ditelusuri lebih jauh, pembangunan drainase itu memang sempat menuai protes warga. Bahkan pada 28 November lalu, sejumlah warga Desa Bandar Putih menghentikan pekerjaan drainase itu.
Mereka mempertanyakan ketidaksesuaian pelaksanaan pekerjaan dengan mekanisme (juklak/juknis) lainnya dalam aturan, seperti papan informasi, perlengkapan pekerja (APD). Mereka beranggapan keberadaan proyek itu seperti proyek siluman.
“Semuanya menggunakan uang kami (rakyat-red), jadi kami berhak juga mengawasi sebagai bentuk dukungan terhadap program pemerintah,” ujar Agus yang bergelar Gustiyang Agung, tokoh masyarakat setempat dilokasi aksi kala itu.
Dikatakan, sejak dimulainya pekerjaan baik pengawas maupun konsultan tidak pernah dilokasi apalagi sampai bicara pada pekerja disana. Sehingga pekerjaan menjadi serampangan. Mulai dari material, adukan sampai kepada pengerjaan. Selian itu, proyek dimaksud tidak dilengkapi dengan papan informasi.
Ternyata ada juga masalah lain. Para pekerja pembangunan Drainase itu mengeluhkan harga upah yang diterima. Menurut pengakuan mereka hanya mendapat upah Rp 50.000/M3 yang dalam sehari pendapatan Rp 100.000.
Selain itu, para pekerjanya disana tak mendapatkan perlengkapan APD sebagaimana diatur dalam pelaksanaan pekerjaan, apalagi saat ini pendemi sehingga tak memakai saat bekerja. Bahkan diantaranya menggunakan perlengkapan pribadi sekenanya.
“Kalau pakaian itu tidak ada, sepatu yang dipakai ini memang milik pribadi karena beli sendiri. Selebihnya tak ada, kami mempersiapkannya sendiri,” ujar salah seorang pekerja, Ramlan dilokasi pekerjaan kala itu. (ndo/her)






