RADARKOTABUMI – Indonesia merupakan negara besar dan kaya sumberdaya alam, namun belum dimanage dengan baik, maka ke depan akan dimanage semaksimal mungkin.”Ke depannya pengembangan hilirisasi industri yang berbasis energi ramah lingkungan akan menjadi andalan Indonesia. Karena sumber dayanya melimpah,” kata Menteri Koordinator Kemaritiman dan Investasi(Marves) Luhut Binsar Pandjaitan(LBP) saat webinar bersama 200 lebih jaringan media cetak dan online yang bernaung di bawah PT Wahana Semesta Media(WSM) dan DIsway termasuk di dalamnya radarkotabumi.co.id, Senin (10/1).
Webinar yang sangat spesial itu membahas hilirisasi industri di Indonesia dan Wisata Medis di Indonesia. Agenda ini dipandu mantan Menteri BUMN, Dahlan Iskan via zoom meeting yang juga komisaris utama(Komut) PT WSM Group.
Dalam kesempatan itu Menko Marves, LBP dibantu dua deputinya menjelaskan progres hilirisasi industri yang sudah dilakukan Pemerintah, termasuk pembangunan Kawasan Industri Hijau(KIH) di Kalimantan Utara(Kaltara) dan Bali International Hospital(BIH) di Sanur, Bali.
Setidaknya ada tiga rencana yang akan dilakukan untuk mewujudkan hilirisasi menurut Menko Marves, Luhur Binsar Pandjaitan. Ketiga rencana itu, menurut Luhut, yakni membangun industri bernilai tinggi. Tentunya untuk mendukung green economy. Misalnya, dengan membangun industri chip, mobil listrik, serta software.
Kemudian, sambung Luhut, yaitu mengalokasikan sumber energi rendah emisi. Dan terakhir, yakni membentuk talent pool yang berkualitas dengan dilatih pada perusahaan kelas dunia.”Kemudian setelah empat sampai lima tahun akan kita tarik untuk dipekerjakan dalam industri dalam negeri,”katanya.
Di hadapan Dahlan Iskan, LBP berharap media-media jaringan WSM bisa menyebarluaskan kemajuan perekonomian Indonesia secara komprehensif. Bagaimana dalam dua tahun terakhir, ekspor iron dan steel dari Indonesia sudah mulai menyumbangkan devisa yang lebih banyak.
Menurut Luhut, Indonesia ke depan akan fokus mengelola bahan baku, menjadi produk jadi(industri). ‘’Untuk menggarap itu, kita akan kerjasama dengan Tiongkok (China), Korea, bahkan dengan Abu Dhabi,” terangnya.
Transaksi negara 2021, berhasil mencatat ekspor hingga US$25 billion. Diantaranya ditopang dari ekspor produk besi, dan baja. Yakni sebanyak US$19 billion. Dampaknya sudah terasa. Yakni defisit neraca perdagangan dengan China, saat ini menurun sekitar 40 persen. Sebab, tanpa proyek hilirisasi, defisit neraca tentu akan lebih besar.
Kawasan industri Kaltara, akan dibangun di lahan seluas 16.400 hektare. Masih berpotensi penambahan 19 ribu hektare untuk tahap 1. Dan penambahan lagi 30 ribu hektare pada tahap 2.
Untuk jenis industri yang akan dibangun, yaitu green aluminium, polysilicon. Selanjutnya, jenis baterai, yakni petrokimia, hingga solar panel.
Dengan hilirisasi industri, akan membuat struktur ekonomi Indonesia menjadi lebih kompleks. Dan tidak lagi didominasi sektor agrikultur. Seperti kelapa sawit, dan lain sebagainya.
Terakhir, Luhut memaparkan mengenai rencana wisata medis di Indonesia. Sebab, saat ini, ada sekitar 60 persen orang Indonesia, menjadi wisata medis di Malaysia. Dan juga 45 persen menjadi wisata medis di Singapura.
Untuk 10 wilayah utama tertinggi wisata medis. Diantaranya, Jakarta, Medan, Bali, Riau. Kemudian, Balikpapan, Samarinda, Sumsel, Palu, dan Makassar.
Luhut juga mengaku, ada tiga daerah berpotensi jadi wisata medis di Indonesia. Yaitu, Jakarta, Bali, dan Medan.
Salah satu pengembangan industri wisata medis nasional, yakni Indonesia Health Tourism Board (IHTB). ‘’Tujuan dibentuknya IHTB, untuk menaungi dan mengembangkan wisata medis di negara ini,” ungkap Luhut.
Luhut mengaku, adanya trend positif kesadaran masyarakat Indonesia, terhadap masalah kesehatan. ‘’Ini menandakan sektor kesehatan memiliki peluang investasi yang menjanjikan,” tambah Luhut.
Rencananya, webinar dengan tokoh-tokoh nasional dari berbagai latar belakang akan dilakukan kontinyu oleh WSM. Ini sebagai pre launching pembentukan DIsway National Network (DNN).(*)






