Oleh: Gadriyanto abung., S.STP.,M.H
Kepala Dinas Sosial Lampung Utara
Bissmillahirrahmannirahim..
Assalamualaikum Wr. Wb
Tabik Pun…….
Alhamdulillahirobbil ‘Alamin, marilah kita terus bersyukur atas nikmat Allah SWT yang sedemikian besar untuk kita semua. Nikmat Allah SWT yang besar adalah nikmat kesehatan, sehingga kita bisa melakukan ibadah puasa dan juga dapat melaksanakan ibadah-ibadah lain sesuai dengan apa yang diperintahkan oleh Allah SWT.
Semoga dengan terus menerus bersyukur kepada Allah SWT zhahiran wa bathinan kemudian Allah SWT akan menambahkan nikmatnya untuk kita semua Amin.
Shalawat serta salam senantiasa kita sanjung agungkan kepada Nabi Besar Muhammad SAW yang syafaatnya kita nantikan di Yaumil Akhir kelak.
Amiin YRA.
Bulan Ramadhan adalah bulan istimewa.
Begitu istimewanya hingga terminologinya bisa diuraikan dalam perspektif apapun.
Salah satunya adalah dari perspektif sosial. Bulan Ramadhan memiliki sesuatu yang unik bila tinjauannya dari perspektif sosial.
Terlebih dalam perspektif sosial, kita juga bisa melihat hal-hal yang bisa menumbuhkan spirit secara komunal dan menyeluruh.
Dalam perspektif sosial setidaknya kita bisa melihat dari berbagai aspek. Ramadhan kaitannya dengan gaya hidup, nilai-nilai kesadaran hidup, toleran, dan kebersamaan serta kepekaan sosial. Dalam arti bahwa datangnya Ramadhan ini membuat orang punya empati tinggi untuk berbuat baik kepada sesama. Lebih dari gaya hidup adalah Ramadhan membawa keberkahan untuk kita semua.
Ada kesadaran kolektif karena orang yang berpuasa merasakan betul bagaimana kondisi orang yang lapar dan dahaga itu. Selama Ramadhan ngiroh bersedakah dan memberi kepada sesama sangat tinggi.
Bisa dilihat disetiap masjid pasti ada iftor bersama untuk jemaah yang jumlahnya puluhan sampai ratusan bahkan ribuan. Maka dari sisi kepekaan sosial inilah bulan Ramadhan seperti menumbuh suburkan perilaku positif untuk berbagi, berdermawan kepada sesama yang dilakukan oleh banyak orang dan elemen secara bergantian.
Puasa merupakan ajaran untuk melatih manusia agar memiliki kepekaan sosial. Bisa dinyatakan bahwa puasa merupakan ajaran yang coraknya fisikal artinya menahan makan minum dan perbuatan tidak baik lainnya di waktu siang hari. Manusia akan merasakan jika pada waktu menjalankan puasa itu lapar dan dahaga, maka orang yang tidak bisa makan juga merasakan hal yang sama. Jika orang lain tidak bebas melakukan perbuatan-perbuatan yang semestinya bisa dilakukan, maka juga demikianlah yang dirasakan orang lain.
Maka dengan puasa kita diajari agar memiliki kepekaan sosial. Pemahaman dan perasaan kita menjadi peka atas penderitaan orang lain.
Jika pemahaman dan perasaan kita sudah peka atas penderitaan orang lain, maka kita akan memiliki kesadaran untuk membantu yang lain.
Kita sadar bahwa di sekeliling kita masih banyak orang yang tidak mampu dan memerlukan bantuan kita. Terkhusus kondisi Kabupaten Lampung Utara, yang kondisinya saat ini sedang tidak baik-baik saja. Hal ini semestinya dapat meningkatkan kesadaran kita bersama untuk lebih peka. Jika hati dan perasaan kita sudah sadar, kita akan merasakan penderitaan orang lain. Kita akan berempati pada orang lain. Saya berkeyakinan bahwa puasa yang kita lakukan merupakan instrument untuk kita semua agar di dalam kehidupan ini kita saling menenggang rasa, saling menghargai, saling memberikan kasih sayang dan saling menjaga satu dengan lainnya.
Kepekaan sosial akan menghadirkan solidaritas sosial. Keunggulan ajaran Islam di antaranya adalah agar manusia memiliki solidaritas sosial. Tidak ada manusia yang bisa hidup sendiri di dunia ini. Setiap manusia pasti membutuhkan manusia lainnya.
Islam mengajarkan agar kita saling menolong sebagaimana di dalam AlQur’an: “Ta’awanu ‘alal birri wat taqwa wa la ta’awanu ‘alal itsmi wal ‘udwan”(Surat Al Maidah, ayat 2). Yang artinya: “saling bertolong menolonglah kalian semua dalam kebaikan dan taqwa dan jangan saling bertolong menolong dalam dosa dan kejahatan”. Esensi puasa sesungguhnya adalah instrument untuk mengingatkan manusia agar memahami kembali jati dirinya sebagai makhluk sosial yang membutuhkan orang lain.
Puasa merupakan pelatihan agar manusia berbuat kebaikan, maka pada akhirnya juga menghasilkan manusia yang terus berada di dalam aura solidaritas sosial dalam kebaikan.
Sesungguhnya manusia sudah memiliki insting untuk saling menolong. Hanya saja karena pengaruh lingkungan sosial maka insting tersebut sering dikalahkan oleh kebutuhan-kebutuhan lainnya. Maka puasa sebenarnya merupakan salah satu cara yang diberikan Allah SWT kepada manusia untuk membangkitkan kembali solidaritas sosial yang hilang tersebut. Semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan rahmat dan perlindunganya untuk kita semua. Aamiiin YRA.
Wallahul Muwaffiq IlaAqwamitthorieq.
Wassalamualaikum Warahmatullah Wabarakatu.






