KOTABUMI–Dibalik rumah berdinding papan beralaskan tanah, berukuran sekitar 4 x 6 meter itulah, tinggal seorang perempuan kecil bernama Keysha Fitriana(8), yang hidup dengan hydrocephalus(penumpukan cairan otak).
Putri bungsu dari pasangan Edi Sudarto(30) dan Ida setiani (27), warga dusun IV Desa Cempaka, Kecamatan Sungkaijaya, Kabupaten Lampung Utara (Lampura), tampak hanya bisa tergolek lemah sambil sesekali melihat tayangan pada televisi di rumah itu.”Ya beginilah mas keadaan rumah kami,” ujar Edi sembari tersenyum mepersilahkan masuk, kepada Radar Kotabumi.
Pelan namun pasti ia mulai menceritakan kisah yang dialami putri dan keluarganya. Saat ia dan keluarga masih berdomisili di Kabupaten Tulang Bawang, kondisi putrinya sejak lahir masih terlihat normal dan tidak menunjukan gejala penyakit apapun.
Ia dan istrinya tak pernah sama sekali menyangka, saat Keysha menginjak usia sekitar satu tahun, barulah mulai menunjukan ada kelainan pada bagian kepala putri bungsu mereka itu.
Semakin hari kepala Keysha pun makin terlihat membesar yang kemudian diketahui mengidap penyakit hydrocephalus.
Pada saat itulah Ida sang isteri, mulai memberikan perhatian lebih untuk merawat putri bungsunya tanpa pernah lelah dan putus asa, semua cara terus ditempuhnya demi kesembuhan sang buah hati. Namun demikian, ia tak pernah sama sekali menunjukan raut wajah sedih di hadapan anaknya tersebut, meskipun apa yang dirasakan sangat jauh berbeda dengan yang ada didalam hati kecilnya.
Ia dan suami selalu rutin memeriksakan kondisi kesehatan Keysha yang terlihat makin membutuhkan penanganan medis lebih serius. Hingga pada akhirnya, dikarenakan alasan medis dan satu lain hal, tindakan operasi baru dapat dilakukan saat Keysha menginjak usia empat tahun, tepatnya di Rumah Sakit Umum Daerah Abdul Moeloek(RSUDAM) Bandarlampung pada medio tahun 2015 lalu, dengan difasilitasi Pemerintah Kabupaten Tulangbawang(Tuba).”Alhamdulillah operasi bisa berjalan lancar mas, meskipun vp shunt(alat kesehatan untuk melepaskan tekanan cairan pada otak) harus tertanam di kepalanya sampai hari ini,”ungkapnya dengan nada lirih.(cw9/rid)
Selengkapnya, baca edisi cetak 11 Maret 2019






