KOTABUMI — Potensi Usaha Mikro Kecil Menegah (UMKM) yang dijalani sejumlah masyarakat desa Gunung Gijul, Kecamatan Abung Tengah, Kabupaten Lampung Utara (Lampura) cukup menjanjikan. Namun sayangnya, para pelaku usaha sedikit mengalami kegelisahan. Hal itu disebabkan banyaknya kendala yang muncul disaat usaha tengah bergeliat di desa tersebut.
“Banyak komoditas yang bisa dijadikan produk unggulan dari desa ini. Seperti madu jenis Trigona misalnya. Sejauh ini, kami berdiri sendiri dengan dukungan pak kades dan warga lainnya. Contohnya saja soal pemasaran,” ujar Anwar Rasid, salah satu warga yang beternak lebah kepada Radar Kotabumi, Minggu (9/2).
Padahal kata dia, omset madu yang dihasilkan dari budidaya lebah hutan tersebut terbilang cukup membantu warga sekitar dalam meningkatkan taraf perekonomian masyarakat. Meski dalam beternak lebah hanya dengan memanfaatkan alat yang seadanya, terbukti madu yang dihasilkan kualitasnya pun tak kalah dengan produk madu dari daerah lain. Bahkan dengan waktu panen yang tergolong singkat, bisnis tersebut memiliki nilai jual yang tinggi.
“Paling cepat dalam waktu satu bulan madu sudah bisa menghasilkan. Harga untuk satu kilonya sekitar Rp. 600 ribu kita jualnya. Ada juga yang dijual dengan per botol dengan harga bervariasi tergantung jumlahnya,” katanya.
Meski cukup menjanjikan, Anwar menyebut pemasaran produk masih banyak menemui kendala. Selama ini mereka hanya mengandalkan kerjasama sesama warga dan aparatur desa setempat. Ia mengaku, selama tiga tahun beternak lebah partisipasi dan dukungan pemerintah khususnya Dinas Koperasi, Perindustrian dan UMKM setempat masih cukup minim. Padahal sambungnya, usaha yang digeluti tidak mengurangi populasi lebah yang ada di area kawasan hutan Desa Gunung Gijul.
“Sejauh ini belum ada bantuan apapun. Hanya dukungan warga dan aparatur desa saja. Kami minta pemerintah tak menutup mata. Dukungan nyata yang kami perlukan,” terangnya.(ano/her)
Selengkapnya, baca edisi cetak 10 Februari 2020






