Plt. Bupati Lampura dan Buwas, Ternyata Satu Bintang

152

KOTABUMI–Ternyata, hari ini sama-sama istimewa bagi Plt. Bupati Lampung Utara (Lampura) Hi. Budi Utomo dan Direktur Utama Bulog Budi Waseso (Buwas). Keduanya sama – sama lahir di bawah naungan rasi bintang Aquarius.

Keduanya sama-sama lahir pada tanggal 19 Februari. Bedanya, Buwas lebih muda dua tahun. Buwas lahir tahun 1956, sedangkan Budi tahun 1958.

Pada ultah ke 62 tahun Budi diberi surprise oleh keluarga, aparatur sipil negara, Forkopimda, dan insan pers di Lampura.

Plt. Bupati Lampura Budi Utomo dapat surprise acara syukuran ultah ke 62 di rumah jabatan wakil bupati, Rabu pagi.

Sedangkan Buwas menjadikan momen spesial di usia 60 tahun dengan meluncurkan Kopi Jenderal. Biji kopi didapat dari petani binaannya di Aceh.

Kegiatan peluncuran kopi dilakukan bersama Menteri Perdagangan Agus Suparmanto di lobby kantor pusat Bulog, Jakarta, Rabu pagi. Hadir pula jajaran direksi BUMN, Polri, dan juga BNN.

Menurut Buwas, kopi ciptaannya ditemukan karena sebuah ketidaksengajaan. Sebab, kala menjabat sebagai Kelala BNN, ia harus berurusan dengan petani yang menanam ganja di Aceh.

“Asal mula saya buat kopi nggak sengaja saat saya jadi Kepala BNN. Begitu berhadapan dengan petani ganja di Aceh saya nyerah. Karena tidak mungkin saya perlakukan petani dengan bandar karena urusannya soal perut,” ungkapnya.

Buwas berupaya agar para petani tak lagi menamam ganja. Bahkan, ia sampai terbang ke Kolombia dan menemukan solusi para petani ganja dengan menanam kopi. Pasalnya, kondisi tanah dan udara di Aceh merupakan yang terbaik. Karena itu bila ditanami kopi akan menghasilkan kopi yang berkualitas.

“Akhirnya, saya belajar ke Kolombia. Di situ saya mendapatkan bagaimana menangani narkotik. Ganja Aceh itu ternyata nomor satu di Indonesia. Saya pelajari kenapa, ternyata tanah, udara itu yang paling baik. Akhirnya program di Aceh dibantu teman BNN, saya berhasil melaksanakan alternatif dengan tanaman kopi,” jelasnya.

Hanya, saat program tanam kopi telah digelar Buwas harus memasuki masa pensiun. Hal itu pun membuat para petani kopi cemas produksi kopi selama ini tidak akan terserap lagi.

Akhirnya, Buwas pun bertanggungjawab dengan mengambil produksi petani kopi tersebut.

“Tapi timbul permasalah. Saya mau pensiun 3 hari lagi. Panik dan timbul pertanyaan dari petani Aceh: Pak Buwas, kami semangat karena Bapak dan kami sudah berhasil. Terus siapa yang tanggung jawab produksi kami? Saya bilang, saya akan beli kopi Anda,” ungkapnya.

Masalah kembali menimpa Buwas. Kali ini ia merasa bingung apa yang harus dilakukan dengan kopi yang telah dibelinya hingga akhirnya ia belajar secara otodidak ke Eropa.

Dari pelajaran tersebut, ia berhasil mendapatkan racikan kopi terbaik. Ia pun membuat nama khusus untuk kopinya dengan sebutan ‘Kopi Jenderal’.

Nama tersebut dipilih sebagai harapan kopi miliknya bisa memiliki pangkat seperti dirinya saat berada di Polri. Sebab, saat di Polri ia pensiun saat berada di jabatan jenderal.

“Ternyata saya berhasil buat kopi yang benar dan baik. Nah, kenapa saya kasih nama Kopi Jenderal, ya kebetulan pangkat saya jenderal di polri. Jadi jenderal bisa diartikan pangkat untuk saya kasih nama kopi Nusantara,” jelasnyaa.

Kopi Jenderal saat ini dinaungi oleh PT Multi Alam Nusantara. Harganya pun dipatok Rp 160.000 per 200 gram untuk bubuknya dan Rp 30.000-an untuk kopi susu langsung minum. (sumber detikcom)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here