Oleh: Hery Maulana
Assalamualaikum wr wb
Era digilitalisasi, informasi dapat dengan cepat sampai ditangan publik. Meskipun meraka berada jauh dipelosok pedesaan. Sesuatu yang dulunya sangat sulit dilakukan. Dimana informasi bagi masyarakat diwilayah pedesaan hanya dapat diperoleh dari televisi dan radio. Sementara untuk media cetak, kesulitan untuk menjangkaunya. Praktis, arus informasi menjadi dominan diwilayah perkotaan.
Begitu juga untuk mempublis sebuah peristiwa atau kegiatan pembangunan didesa. Sulit untuk dilakukan. Sebab mereka harus mendatangkan wartawan yang umumnya bertugas di perkotaan. Padahal ada banyak kegiatan yang layak diketahui publik. Semisal prestasi warga desa dalam bidang seni dan lainnya yang menasional. Juga prestasi anak-anak sekolah, aparat desa dan seabrek pretasi lain, yang sejatinya layak disuguhkan kehadapan publik.
Ini kemudian yang mengilhami Radar Kotabumi membuat program Wartawan masuk desa. Wartawan yang memang berdomisili didesa. Sehingga informasi dapat segera sampai kemeja redaksi dan langsung dapat dipublikasikan. Tidak hanya itu, akan ada kontrol langsung atas pembangunan yang dilakukan didesa. Mereka dapat secara langsung menyuarakan apa yang menjadi aspirasi dan keluhan masyarakat didesanya.
Dari sanalah kemudian muncul pembahasan yang cukup alot. Siapa yang layak untuk dijadikan wartawan desa dimaksud. Dari beberapa pendapat yag dimunculkan kemudian diuji dari banyak sisi, pilihannya adalah Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan (TKSK). Mereka ini yang sudah lama bergelut dan berjuang dalam hal kesejahteraan sosial.
Mereka bekerja pada satu kecamatan yang terdiri dari beberapa desa. Tugas yang dijalankan sebagai TKSK, membuat yang bersangkutan tidak hanya dikenal oleh aparat desa dan kecamatan, tetapi membaur bersama masyarakat. Membantu masyarakat terkait persoalan sosial. Termasuk penyaluran bantuan sosial terhadap desa dan kecamatan.
Jiwa sosial yang tertanam, sejalan dengan tugas mulia seorang jurnalis. Bagaimana membuat terang sebuah peristiwa yang tadinya hanya berupa bisik-bisik tetangga. Tentu dengan segala ‘bumbu penyedap’, walau tidak bisa dipertanggungjawabkan. Ada keluasan dari tugas dan wewenang TKSK, jika direkrut sebagai wartawan desa.
Ketika pemikiran itu dilontarkan, ternyata sambutan baik didapat. Baik dari Kepala Dinas Sosial maupun dari Forum Komunikasi TKSK. Karenanya, pemikiran tersebut diwujudkan. Para TKSK diberi pembekalan Jurnalis yang akan berkesinambungan dilakukan. Sehingga kedepan para TKSK dapat menjadi jurnalis yang handal. Jurnalis yang melaksanakan tugas dengan penuh tanggungjawab dan berjalan sesuai koridor yang ada. Semoga. (**)
Wassalam






