Oleh : Hery Maulana
Assalamualaikum Wr.Wb
Seorang pejabat eselon III dilingkungan Pemerintah Kabupaten Lampung Utara (Lampura) menjawab dengan mimik kecewa. Ketika ditanyakan, apakah ia mengikuti Seleksi Terbuka (Selter) untuk 12 Jabatan Eselon IIb. Pejabat Eselon III yang sudah terbilang sangat senior dengan pangkat IVb yang juga senior, menghela nafas. Lalu “Untuk apa ikut, jika kita cuma sebagai penggembira. Sementara siapa yang akan duduk, sudah pasti. Yakni mereka yang mendapatkan ‘perintah’. Sedangkan saya, jangankan ‘perintah’ dihubungi saja tidak,”ujarnya pelan.
Sebuah ungkapan jujur, dari gembar-gembor bangunan opini yang dilancarkan. Bahwa Selter dilaksanakan dengan sangat fair. Tidak ada pesenan dan memberikan kesempatan yang sama bagi seluruh ASN yang memenuhi syarat. Tidak terkecuali pejabat eselon III dilingkungan Pemerintahan setempat.
Ungkapan jujur itu, bisa jadi sebuah keputus-asaan. Bisa jadi juga sebuah sikap skeptis atas gembar-gembor kampanye reformasi borokrasi. Bisa jadi juga, sebuah mindset lama yang tidak ter-revolusi. Sehingga kesempatan untuk meniti karir, tersingkirkan oleh mindset itu. Tetapi juga, bisa merupakan sebuah realita yang tak terbantahkan. Bahwa mengikuti Selter tanpa ‘sinyalemen’ dari penguasa adalah kesia-siaan.
Sebab dibalik gelaran Selter, ada banyak soal yang menjadi pertanyaan. Benarkah penguasa memberikan ‘warna’ penuh dalam pemerintahan yang dijalankannya. Dirinya akan demikian ‘ikhlas’ memberikan jabatan, pada sosok yang tidak diinginkan bahkan berlawanan dengan haluan politiknya. Akankah penguasa dapat menghapuskan keraguan jika dirinya tidak bakal ditohok atau dikhianati. Berjalan seiring dengan komitmen mejaga ‘rahasia’ bersama. Tentu ini menjadi terawang yang tidak berkesudahan sebelum tidur lelap pada malam hari.
Artinya, penguasa tidak ingin ‘gambling’ dengan keadaan yang sejatinya tidak menguntungkan. Secara matematis, penguasa akan memilih ‘jalur aman’. Jalur yang tidak terkontaminasi dengan segala sakwasangka yang dapat membuatnya letih berfikir. Akan lebih masuk akal, ketika sosok yang ditempatkan, adalah bagian yang berjibaku untuk kepentingannya. Yang memuluskan segala asa, dengan loyalitas tanpa batas.
Pada pemikirian ini, apa yang disampaikan pejabat tadi sebuah niscaya. Bahwa sesungguhnya, Selter tidak lebih sebagai sebuah rekayasa formal. Melegitimasi arogansi kekuasaan dan memperhalusnya. Sehingga tampak kepermukaan menjadi sesuatu yang sangat fair dan berkeadilan. Tetapi yang patut diingat, boleh saja mata manusia tidak dapat melihatnya. Tetapi jangan lupa dibalik itu semua, ada ‘mata’ yang tidak pernah berkedip. Melihat dengan nyata, apa yang sesungguhnya ada, jauh dilubuk hati manusia. (**)
Wassalam






