Oleh : Hery Maulana
Assalamualikum Wr.Wb
Program vaksinasi Covid-19 di Kabupaten Lampung Utara (Lampura) dimulai. Sebanyak 15 pejabat, termasuk perwakilan wartawan akan disuntik vaksin pertama. Setelahnya, akan dilanjutkan dengan tenaga kesehatan (nakes). Ada sebanyak 1.074 vaksin yang telah diterima Kabupaten tertua di Lampung ini untuk tahap pertama. Vaksin-vaksin itu siap disuntikan. Sembari menunggu kiriman vaksin lanjutan dari Dinas Kesehatan Provinsi Lampung.
Sebanyak 15 pejabat penerima vaksin pertama, merupakan simbolis dari pemahaman bahwa vaksin tersebut aman dan sudah teruji. Masyarakat tidak perlu ragu untuk menerima vaksin dari pemerintah tersebut. Sebagai buktinya, pejabat saja bersedia menerima vaksin covid-19 tersebut. Artinya ketika vaksin tersebut meragukan, tentu mereka yang pertama akan menerima akibatnya. Inilah diantara pesan yang ingin disampaikan, dengan pejabat tinggi yang pertama menerima vaksin.
Mengapa seremonial itu harus dilakukan ?. Padahal pemberian vaksin dimaksudkan agar masyarakat menjadi kebal, atau paling tidak paparan covid-19 tidak lagi berakibat fatal. Ini merupakan ‘jurus’ yang dianggap paling ampuh untuk mengendalikan dan menghentikan penyebaran covid-19 di negara ini. Pemerintah sendiri, harus merogoh kocek sangat dalam untuk pengadaan vaksin, demi masyarakatnya. Sebab covid-19 telah meluluhlantakan hampir semua sendi kehidupan masyarakat. Bukan hanya sebatas persoalan ekonomi semata. Tetapi juga menyangkut kehidupan beragama, bersosial dan berbudaya. Semua terganggu akibat pandemi covid-19.
Sayangnya, pemerintah tidak secara khusus mensosialisasikan vaksin yang bakal dibeli. Sementara beredar informasi simpang siur yang begitu deras terkait vaksin dimaksud. Sejumlah ahli vaksin juga tidak seragam dalam menyampaikan pendapatnya. Bahkan diantaranya secara terang-terangan menyatakan meragukan vaksin sinovac yang kini lebih dikenal dengan sebutan vaksin covid-19. Mulai dari persoalan uji klinis hingga efikasi vaksin. Apalagi disebut-sebut negara China sebagai produsen vaksin sinovac, justru tidak menggunakan vaksin tersebut pada warganya.
Inilah yang kemudian membuat banyak masyarakat menjadi ragu untuk menerima vaksin tersebut. Bahkan diantaranya ada yang menolak untuk divaksin apapun akibat yang akan diterimanya. Kerenanya strategi dilancarkan dengan menempatkan Presiden RI Jokowi sebagai penerima vaksin pertama. Diikuti dengan pejabat tinggi lainnya, hingga kedaerah. Meskipun strategi tersebut belum sepenuhnya berhasil, karena banyak masyarakat yang masih ragu bahkan takut untuk menerima vaksin tersebut. Sikap yang sejatinya dapat dipahami, meskipun tidak boleh juga berlarut. Karena pada dasarnya, pemerintah akan melindungi segenap jiwaraga bangsa Indonesia. Apapun keputusan pemerintah, harus dimaknai sebagai sebuah langkah untuk sebesar-besarnya kesejahteraan masyarakat
Semoga saja dengan pejabat yang menerima vaksin pertama, semakin membuat masyarakat yakin dan percaya dengan keberadaan vaksin tersebut. Kemudian menyadari betapa pentingnya vaksin covid-19 tersebut. Lalau pada akhirnya secara sukarela mendaftarkan diri sebagai penerima vaksin. (**)






