Oleh : Heri Maulana
Assalamualaikum wr wb
Seleksi terbuka (Selter) Jabatan Pimpinan Tinggi Pratama (JPTP) atau yang lebih dikenal dengan eselon IIB, dilingkungan Pemerintah Kabupaten Lampung Utara (Lampura), memasuki tahapan uji kompetensi. Peserta akan diuji kemampuannya dalam bidang tugas jabatan yang diminati. Jika dinyatakan kompeten, maka yang bersangkutan akan mengikuti proses seleksi berikutnya. Tetapi jika gugur, maka pupus sudah harapan untuk dapat menduduki jabatan eselon II yang diidamkan.
Meskipun, lolos uji kompetensi bukan berarti jabatan yang diinginkan itu dapat langsung diraih. Karena masih ada tahapan seleksi wawancara diantaranya soal wawasan kebangsaan. Lalu nama tiga peserta yang memiliki nilai tertinggi, akan disampaikan pada bupati Lampura untuk dipilih. Disini bupati Lampura sebagai Pejabat Pembina Kepegawaian (PPK), akan menentukan. Siapa yang akan menduduki jabatan tersebut.
Dengan kata lain, perolehan nilai tinggi pada Selter bukan jaminan dapat menduduki jabatan yang diinginkannya. Karena bisa jadi bupati sebagai PPK justru memilih peserta dengan perolehan tertinggi ketiga atau kedua. Sementara pemegang ranking tertinggi diabaikan oleh bupati.
Dalam proses ini penentu tetap berada ditangan bupati atau PPK. Sebuah peluang ‘main sabun’ yang diberikan oleh Undang-undang. Peserta dapat ‘main mata’ dengan bupati. Atau bupati dapat ‘kedip-kedipan’ dengan peserta.
Hanya saja, pelaung itu baru didapat setelah peserta mampu bertengger paling tidak diurutan ketiga. Berbeda dengan sistem lama, melalui Badan Pertimbangan Jabatan dan kepangkatan (Baperjakat). Dimana bupati atau penguasa daerah dapat leluasa mempengaruhi, agar sosok yang diinginkannya dapat langsung ditetapkan sebagai pejabat. Karenanya sistem Selter jauh lebih baik dari pada sistem Baperjakat. Tetapi tetap saja, ada peluang untuk main curang. Meskipun itu baru dapat dilakukan setelah peserta memasuki tahapan terakhir Selter. Sebab untuk bermain diawal, rasanya cukup sulit. Karena Panitia Seleksi (Pansel) meskipun ditetapkan oleh Bupati, tetapi terdiri dari lembaga independen yang tidak diragukan. Meskipun bukan berarti tidak ada peluang ‘bermain’. Tetapi jalan kearah itu, dipersempit. Apalagi Selter bersifat transparan yang selalu dibuka pada publik. Dimana publik dapat mengikuti jalannya Selter dengan mudah. Namun demikian tetap saja terbuka peluang untuk ‘main kotor’. Bergantung dengan niatan dan itikat baik dari penguasa itu sendiri (**)
Wassalam






