Menu

Mode Gelap
Wartawan AJNN Aceh Dilaporkan ke Polisi, Ini Sikap Tegas PJS Perhimpunan Jurnalis Siber Provinsi Lampung Resmi Dibentuk P3K Bakal Tak Diusulkan Lagi Pelajar SDN Handuyangratu Masih Belajar di Eks Balai Desa Disdikbud Persiapkan SDM Dalam Era Pembelajaran Digital

Headline · 7 Nov 2021 20:43 WIB ·

Pentingnya Melibatkan Tokoh Dalam Pembangunan


 caption :  A. Akuan Abung gelar Nadikiang Pun Minak Yang Abung
Perbesar

caption : A. Akuan Abung gelar Nadikiang Pun Minak Yang Abung

KOTABUMI–Tokoh adat dan tokoh masyarakat, hendaknya dimintakan saran dan pendapatnya terkait pembangunan yang dilakukan oleh pemerintah. Sebagaimana dilakukan pemimpin sebelumnya. Senantiasa meminta dan mendengarkan masukan atau saran dari para tokoh. Sehingga pembangunan di Lampung Utara (Lampura), dapat berjalan sesuai dengan harapan bersama. “Sejauh ini saya belum melihat para tokoh adat, tokoh masyarakat dan senior-senior terdahulu dikumpulkan dan dimintakan pendapatnya terkait pembangunan di Lampura,”ujar Tokoh adat dan masyarakat Lampung Utara A. Akuan Abung gelar Nadikiang Pun Minak Yang Abung.

A.Akuan mencontohkan sewaktu kepemimpinan Hairi Fasyah sebagai bupati Lampura dua periode, juga Bachtiar Basri yang menjabat Sekretaris Daerah kala itu, bahkan ketika menjabat sebagai wakil Gubernur Lampung.

Memang, lanjut Akuan dari dari beberapa bupati yang pernah menjabat di Lampura, hanya ada satu pemimpin yang paling berhasil dalam merangkul semua elemen masyarakat yaitu Hairi Fasyah. Menurutmya, Hairi Fasyah telah membuat pondasi pembangunan yang telah dirasakan oleh masyarakat Lampura. Hairi, sangat peduli dengan adat, dan faham dengan karakter masyarakat Lampura yang masih kental dengan nilai-nilai budaya dan adat istiadat Lampung.

Akuan juga sempat menjelaskan terkait masyarakat adat Lampung yang bermukim di Lampura. Ada lima buay atau marga yang tergabung dalam Abung Siwo Migo yang tinggal di Lampura yaitu marga Nunyai, Beliuk, Selagai, Kunang dan Sungkai Bunga Mayang. Seluruh marga tersebut dapat hidup berdampingan dengan damai dan saling menghargai. Termasuk menerima warga dari suku lainnya, berbaur bersama tanpa mempersoalkan latar belakangnya. Tidak ada lagi istilah masyarakat pendatang atau masyarakat pribumi, sebab siapa saja yang tinggal di Lampura, maka semuanya adalah orang Lampung, orang Lampura. “Tetapi tentunya harus mempunyai rasa memiliki terhadap Lampura, sesuai dengan pepatah Dimana Langit Dijunjung disitu Bumi Dipijak. Kalau masing-masing kita telah memiliki kesadaran dan rasa memiliki yang tinggi, maka kita akan hidup berdampingan secara damai dan bahu membahu untuk memajukan pembangunan di Lampura yang kita cintai ini”, ungkapnya. (her)

Artikel ini telah dibaca 15 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

29 April 2026 - 16:10 WIB

BPS Lampura Gelar Sosialisasi SE dan FGD

29 April 2026 - 10:17 WIB

Meski Diprediksi Tak Terdampak Langsung El Nino /// Lampura Tetap Antisipasi

28 April 2026 - 17:37 WIB

Kabag Kesra Tinjau Langsung Lokasi Pelepasan CJH

27 April 2026 - 10:56 WIB

Rapat Bersama, Dishub Matangkan Terminal Stasiun /// Kotabumi Menuju TBB

25 April 2026 - 11:58 WIB

Rapat DWP, Berbagai Usulan Disampaikan

23 April 2026 - 14:55 WIB

Trending di Headline