Menu

Mode Gelap
Wartawan AJNN Aceh Dilaporkan ke Polisi, Ini Sikap Tegas PJS Perhimpunan Jurnalis Siber Provinsi Lampung Resmi Dibentuk P3K Bakal Tak Diusulkan Lagi Pelajar SDN Handuyangratu Masih Belajar di Eks Balai Desa Disdikbud Persiapkan SDM Dalam Era Pembelajaran Digital

Beranda · 8 Des 2021 21:01 WIB ·

Pilkades dan Pilkada


 Pilkades dan Pilkada Perbesar

Assalamualaikum Wr.Wb

Oleh : Hery Maulana

Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) serentak di Kabupaten Lampung Utara, berakhir sudah. Sebanyak 141 desa, telah memiliki calon pemimpin desanya. Secara demokratis, lewat pemilihan secara langsung.

Secara umum, Pilkades yang digelar, berlangsung lancar, aman dan kondusif. Menunjukan bahwa demokrasi diwilayah pedesaan, justru lebih baik. Jika dibandingkan dengan perhelatan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkades). Peningkatan suhu politik begitu terasa. Bahkan rakyat terkotak dan terbelah untuk waktu yang lama. Gesekan antar pendukung, kerap menjadi dan menjadi sangat umum. Malahan disejumlah wilayah, sempat terjadi bentrok antar pendukung, hingga pengrusakan fasilitas umum.

Padahal jika bercermin pada Pilkades, dinamika disekelilingnya tidaklah sekeras Pilkada. Perbedaan pilihan, hanya sampai pada saat pencoblosan. Gesekan yang terjadi juga relatif kecil dan tidak sampai berlarut. Para calon dan pendukung, saling memahami. Dimana posisi mereka. Ketika berada pada pihak yang menang, tidak euporia berlebih apalagi sampai menyinggung calon yang kalah. Sedangkan yang kalah, lebih legowo dengan hasil perjuangan yang dilakukan.

Mungkin lantaran Pilkades tidak memerlukan cost yang tinggi bagi para calon. Sehingga kekalahan yang diderita tidak sampai menguras dompet. Hal yang berbeda dengan Pilkada. Untuk dapat ditetapkan sebagai calon, biaya politik yang dikeluarkan sudah sedemikian besar. Karena ada syarat dukungan partai politik yang memiliki 20 persen kursi diparlemen. Sehingga kebanyakan harus menggandeng banyak atau koalisi parpol. Tentu saja ‘tidak ada makan siang gratis’. Semua membutuhkan biaya yang tidak sedikit.

Lantas calon juga harus mempersiapkan alat peraga kampanye. Mulai dari pamflet, stiker, poster, spanduk dan baliho. Juga atribut lain seperti baju kaos, topi, rompi bendera dan masih banyak lagi. Lalu pengerahan massa dan panggung hiburan untuk menarik perhatian massa. Sampai disini saja, cost yang dikeluarkan mencapai puluhan miliar. Apalagi jika harus juga menggunakan cara-cara kotor. Money politic, menyuap rakyat untuk suara yang diberikan.

Mengapa negeri ini tidak menyederhanakan aturan terkait Pilkada. Sehingga cost yang dikeluarkan tidak begitu besar. Dengan begitu Pilkada dapat diikuti oleh mereka yang memililiki kualitas, meski tidak didukung oleh finansial. Bukan mereka yang berduit atau kaki tangan cukong, tetapi sejatinya tidak memiliki kafasitas. (**)

Wassalam

Artikel ini telah dibaca 16 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

29 April 2026 - 16:10 WIB

Dibantu Malah Jadi ‘Pekara’

26 Juli 2023 - 23:31 WIB

Ditindaklanjuti Kemana ?

29 Mei 2023 - 20:02 WIB

Bertambah Kuota, Jangan Tambah Biaya Dong….

15 Mei 2023 - 21:32 WIB

PIlkades Bersumber Dari Dua Mata Anggaran

14 Maret 2023 - 20:30 WIB

Perlunya Pengawasan Pemuktahiran Data

13 Maret 2023 - 19:41 WIB

Trending di Beranda