Oleh : HERY MAULANA (Plt..Pimred Radar Kotabumi)
Assalamualaikum wr.wb.
Normal baru atau new normal, merupakan strategi pemerintah untuk keluar dari persoalan ekonomi ditengah pandemi. Bagaimana masyarakat tetap menjalankan aktivitasnya, namun tetap menggunakan protokoler kesehatan. Seperti menjaga jarak, memakai masker dan seseringnya mencuci tangan.
New normal sebuah keniscayaan. Karena sejak pandemi covid 19, seluruh sendi perekonomian luluh lantak. Pembatasan aktivitas dan penutupan fasilitas umum, membuat banyak warga kehilangan pencariannya. PHK besar-besaran, usaha mikro dan menengah yang gulung tikar hingga goyahnya sejumlah perusahaan raksasa.
Selain persoalan ekonomi, kehidupan sosial lainnya juga tidak berjalan sebagaimana mestinya. Termasuk keagamaan dan pendidikan.
Kondisi ini tidak boleh berlarut. Harus ada solusi, tanpa harus melonggarkan protokoler kesehatan. Karena covid 19 juga ancaman, yang masih ada disekitar kita. New normal adalah solusi itu.
Persoalannya kemudian, sikap apatis masyarakat yang belakangan mulai muncul. Kejenuhan akibat dirumah saja. Pembatasan aktivitas dan perekonomian yang ‘terjun bebas’, membuat sikap masa bodoh muncul. “Beraktivitas kemungkinan mati karena covid, membatasi diri mati kelaparan”, celoteh itu menjadi candaan. Seakan mengkonfirmasi sikap masa bodoh sebagian masyarakat.
Sikap yang sama juga ditunjukan paramedis dengan tagar # Indonesia Terserah. Dalam dimensi yang berbeda, para medis juga menunjukan sikap apatis. Lelah yang berkepanjangan, jauh dari keluarga dan resiko terpapar, tidak sebanding dengan kondisi yang ada. Jumlah pasien terus bertambah dari waktu ke waktu.
Nah dalam situasi ini, penerapan New Normal, masih harus dipertimbangkan ulang. Sebab akan menjadi ‘bumerang’. Masyarakat yang sudah apatis dan jenuh, melihat kebijakan ini sebuah kelonggaran
Mereka akan beraktivitas seperti kehidupan normal biasanya. Tidak lagi indah akan protokoler kesehatan. Masyarakat tidak lagi peduli akan ancaman kesehatan. Terserah saja dengan apa yang terjadi. Apalagi jika penerapan New Normal tidak dibarengi dengan pemantauan yang ketat. Wallahualam bisawab. (**)
Wassalam.






