Oleh: Hery Maulana
Menjadi seorang pemimpin, tidak hanya diperlukan kecerdasan berfikir, memiliki kapasitas atau kemampuan semata. Tetapi yang lebih penting adalah, bagaimana akhlak yang bersangkutan. Dapatkah ia menjadi sosok yang amanah dan menjadi tauladan. Paling tidak dilingkungan tempatnya memimpin. Itulah sebabnya, dalam Islam pemimpin harus memiliki empat sifat. Yakni Shiddiq, Amanah, Tabligh dan Fathonah.
Dengan memiliki keempat sifat tersebut, diyakini akan mampu menjadi sosok pemimpin yang diharapkan. Karena ia akan berprilaku benar, bukan hanya perkataannya saja yang benar, tapi juga perbuatannya harus benar. Lalu ia akan berprilaku transfaran dalam segala hal. Apapun itu disampaikan dan tidak ada yang disembunyikannya. Dirinya juga bersifat amanah atau benar-benar bisa dipercaya. Jika satu urusan diserahkan kepadanya, niscaya orang percaya bahwa urusan itu akan dilaksanakan dengan sebaik-baiknya. Semua itu diperkuat dengan adanya kapasitas dan kecerdasan. Sehingga mampu mengatasi seluruh persoalan yang dihadapi. Paling tidak mencarikan solusinya.
Memang sulit untuk memilih sosok pemimpin yang memiliki keseluruhan sifat tersebut. Sebab kebanyakan, mereka ini tidak tertarik untuk berkecimpung dipemerintahan. Sementara ada diantaranya yang sedikit tertarik, tetapi secara finansial tidak mendukung. Sementara untuk sebuah pemilihan, semisal Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) saja, diperlukan cost yang lumayan. Terlebih jika ingin mengikuti kontestasi Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada). Bukan hanya cost untuk operasional semata, tetapi juga biaya untuk ‘melamar’ Partai Politik pengusung.
Akibatnya, Pimilihan apapun itu, selalu dimonopoli oleh sosok yang memiliki kemampuan finansial yang memadai. Celakanya, mereka ini terkadang jauh dari empat sifat yang sejatinya harus dimiliki. Karenanya ketika memimpin, janji manis sewaktu kampanye misalnya, berbanding terbalik dengan kenyataan yang dijalankannya. Berprilaku otoriter dan juga korup. Tidak segan, untuk menindas rakyatnya sendiri.
Peristiwa penganiayaan yang dilakukan oknum Kades terhadap warganya sendiri, hanya segelintir catatan bagaimana buruknya prilaku seorang pemimpin. Sosok yang harusnya mengayomi, justru berprilaku brutal terhadap warga yang harusnya dilindungi. Lebih konyol lagi, dasar dari tindakannya itu, hanya kirduk atau “perkiraan dukun” atau “pikiran dukun”. Sungguh tidak patut ditiru. Tidak hanya oleh seorang pemimpin tetapi seluruh masyarakat.
Wassalam (**)






