Oleh : Hery Maulana
Assalamualaikum wr wb
Ada yang berbeda pada peringatan hari sangat bersejarah bagi Bangsa Indonesia. Peringatan detik-detik proklamasi Indonesia yang ke 75. Pandemi Covid-19 yang melanda dunia, ‘memaksa’ peringatan HUT RI tersebut, harus dilaksanakan dengan protokol kesehatan. Menggunakan masker dan menjaga jarak dengan jumlah peserta yang dibatasi. Rangkaian kegiatan dalam rangka memeriahkan HUt RI sebagaimana biasanya, juga ditiadakan.
Namun nasionalisme bangsa ini tidak terkikis. Gegap gempita kemeriahan HUT RI tidak menjadi sebuah ukuran nasionalisme itu. Ini dibuktikan dengan upacara mandiri yang dilaksanakan oleh anak-anak bangsa ini, jauh dipelosok sana. Jauh dari hiruk pikuk pemerintahan dan politik dengan segala basa-basinya. Tetapi murni, keluar dari sanubari terdalam. Mereka bangga menjadi bangsa Indonesia. Bangsa besar yang lahir dari perjuangan panjang. Perjuangan yang menelan banyak syuhada. Mereka gugur dengan satu keyakinan dan harapan. Indonesia Merdeka !.
Mereka sadar, betapa darah dan air mata, membasahi haribaan ibu pertiwi. Bukti kegigihan dan semangat yang berkobar. Semangat itu yang kemudian tetap hidup. Berkobar nun jauh disana. Ditengah areal perkebunan tebu milik PTPN 7 Bungamayang. Puluhan buruh tani melakukan upacara bendera tepat pukul 10.00 WIB. Empat orang buruh tani, mengibarkan bendera. Seorang buruh lainnya bertindak sebagai pemimpin upacara. Lalu secara bersama pengibaran bendera diringi lagu Indonesia Raya.
Ini sebuah persitiwa, diantara banyaknya peristiwa serupa yang terjadi dibelahan Nusantara. Melihat ini, patut menjadi catatan berharga. Bahwa sejatinya, nasionalisme bangsa ini belumlah memudar. Bahwa bangsa ini sangat menghargai perjuangan para pendahulunya dalam merebut kemerdekaan. Mereka bangga menjadi bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Merdeka !.
Wassalam






