Oleh : Hery Maulana
Assalamualaikum.Wr.Wb
Sudah 77 warga Lampung Utara (Lampura), dinyatakan positif. Itu lantaran terjadi lonjakan secara signifikan kasus positif Covid-19. Yakni pada Sabtu (12/9) lalu, dengan penambahan sebanyak 26 kasus.
Terang dengan penambahan kasus, berarti akan semakin banyak tracing terhadap warga yang kontak langsung dengan pasien positif. Mereka ini langsung dilakukan test Swab atau tes usap. Gugus Tugas Percepatan Penanggulangan Covid-19 Lampura, mencatat sebanyak 92 warga yang sampelnya telah disampaikan untuk dianalisa. Itu masih akan terus bertambah, sebab tracing terus dilakukan. Sementara hasil swab sebelumnya, masih ada yang belum keluar, lantaran analisa yang dilakukan belum kelar.
Kenyataan ini cukup menciutkan nyali. Karena potensi warga yang terpapar masih sangat besar. Sebab belum keseluruhan hasil swab yang sebelumnya tuntas dianalisa. Sementara sampel swab yang disampaikan untuk diuji terus bertambah. Tentu saja, ketika ada satu saja dari warga yang mengikuti tes Swab dinyatakan positif, maka akan ada tracing lanjutan dan tes swab bagi yang kontak langsung. Begitu seterusnya, sehingga potensi kasus positif covid-19 terus meluas dan bertambah.
Ini jika merujuk, dari hasil tracing yang dilakukan dari pasien positif. Lantas bagaimana dengan mereka yang datang dari luar daerah. sebut saja dari zona merah. Mereka yang merasa sehat dan tanpa gejala. Mereka leluasa beraktivitas dengan banyak kontak langsung. Kasusnya belum termonitor, karena belum ada laporan dari warga. Adanya keluhan yang mengarah kepada terpapar covid-19. Sedangkan swab atas dasar tracing kontak langsung saja, sudah membuat catatan kasus Covid-19 melonjak tajam. Bagaimana jika swab dilakukan secara massal ?. Tentu akan semakin banyak kasus positif yang terungkap.
Realita ini harus menjadi catatan penting Pemkab Lampura. Untuk mengeluarkan kebijakan tegas. Lakukan pembatasan kegiatan. Utamanya yang mengumpulkan massa. Jangan tunggu, sampai kasusnya semakin ‘meledak’. Karena pada saat itu, Pemkab dan Gugus Tugas akan kewalahan menanganinya. Sekarang saja, lokasi karantina yang disediakan Pemkab Lampura, sudah mulai penuh. Untuk itu diminta kepada Kecamatan dapat menyediakan lokasi karantina bagi warganya yang terpapar.
Belum lagi soal ketersediaan dana, tenaga medis termasuk tim Gugus Tugas dan relawannya. Jangan sampai, sikap kehati-hatian Pemkab, membuat penanganan covid-19 menjadi tidak maksimal. Padahal ini menyangkut nyawa manusia. Karena realitanya, tidak ada jaminan covid-19 dapat sembuh. Ada banyak kasus, meskipun prosentasenya kecil, mengakibatkan kematian. Ambil kebijakan tegas, walau itu bertentangan dengan peraturan diatasnya. Toh, untuk urusan nyawa ada pembenar disana. (**)
Wassalam






