Menu

Mode Gelap
Wartawan AJNN Aceh Dilaporkan ke Polisi, Ini Sikap Tegas PJS Perhimpunan Jurnalis Siber Provinsi Lampung Resmi Dibentuk P3K Bakal Tak Diusulkan Lagi Pelajar SDN Handuyangratu Masih Belajar di Eks Balai Desa Disdikbud Persiapkan SDM Dalam Era Pembelajaran Digital

Beranda · 16 Sep 2021 20:56 WIB ·

Instrospeksi


 Instrospeksi Perbesar

Assalamualaikum Wr.Wb

Oleh : Hery Maulana

Emosi sesaat, membuat Romli Ketua DPRD Lampung Utara (Lampura), ‘gelap mata’. Serta merta melakukan pemukulan terhadap oknum wartawan, yang selama ini merupakan mitra kerjanya. Efri sang wartawan, tindakan ketua DPRD Lampura itu berlebihan dan melawan hukum. Karenanya, ia melaporkan kepada Polres Lampura atas dugaan penganiayaan yang dilakukan Romli.

Terang saja kejadian tersebut menarik perhatian publik. Terlebih kemudian, media sosial diramaikan dengan informasi itu. Publikpun menanggapi beragam, umunya menyayangkan peristiwa tersebut terjadi. Apapun yang menjadi alasan dibalik peristiwa itu, tidak semestinya Romli melakukan tindakan bar bar seperti itu. Sebagai pejabat publik harusnya Romli dapat menahan diri. Apalagi jabatan yang disandangnya sebagai ketua lembaga wakil rakyat. Dimana semestinya, ia berada disamping rakyat, membela dan memperjuangkan aspirasinya. Bukan malah melakukan penganiayaan.

Reaksi keras ditunjukan oleh sejumlah awak media dan lembaga jurnalis, seperti Persatuan Wartawan Indonesia (PWI). Terlebih Efri merupakan anggota PWI. Ketika peristiwa itu berkaitan dengan tugasnya sebagai jurnalis, jelas merupakan pelecehan terhadap profesi jurnalis yang disandangnya. Apapun alasannya, kekerasan terhadap jurnalis tidak boleh terjadi. Apalagi itu dilakukan oleh pejabat publik.

Dalam perkembangannya, Romli menyadari kekeliruannya dan segera menyampaikan permohonan maaf. Sebuah langkah positif dan ksatria. Tidak hanya itu, secara khusus permohonan maaf disampaikan kepada lembaga PWI dan Efri beserta keluarga besarnya. Sebuah sikap yang patut dihargai, untuk kemudian disikapi secara bijak. Bahwa tidak ada manusia yang sempurna. Semua memiliki keterbatasan dan kekhilafan. Untuk kemudian memperbaikinya dan tidak terulang kembali.

Kesadaran inilah yang kemudian ditunjukan oleh Efri dan keluarganya. Secara legowo menerima permohonan maaf itu dan memaafkan. Lantas bersepakat untuk berdamai dan kembali merajut silaurahmi yang memang telah sebelumnya telah terbangun.

Ini sebuah potret dan dinamika kehidupan yang harus menjadi pelajaran berharga. Bukan hanya oleh Romli dan Efri semata, tetapi untuk semua. Agar kedepan dapat lebih mawas diri, dapat mengendalikan emosi dalam situasi apapun. Bersikap bijak dan mengedepankan sikap saling asah, asih dan asuh..(**)

Wassalam

Artikel ini telah dibaca 5 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

29 April 2026 - 16:10 WIB

Dibantu Malah Jadi ‘Pekara’

26 Juli 2023 - 23:31 WIB

Ditindaklanjuti Kemana ?

29 Mei 2023 - 20:02 WIB

Bertambah Kuota, Jangan Tambah Biaya Dong….

15 Mei 2023 - 21:32 WIB

PIlkades Bersumber Dari Dua Mata Anggaran

14 Maret 2023 - 20:30 WIB

Perlunya Pengawasan Pemuktahiran Data

13 Maret 2023 - 19:41 WIB

Trending di Beranda