Assalamualaikum Wr.Wb
Oleh : Hery Maulana
Cinta mendominasi alasan pasangan berikrar suci mengarungi kerasnya hidup bersama. Alasan itu jualah, yang membuat apapun yang melekat pada pasangan diterima dengan tulus. Termasuk yang paling minus pada tubuh dan kehidupan sang pasangan. Bahkan rela menentang orang tua dan keluarga. Saat itu, sumua yang ada pada pasangan menjadi sangat indah. Tidak jarang ada pasangan yang menunjukan rasa kasih dan mesra, yang tidak lazim dan berlebihan. Tapi itulah cinta dengan segala dinamikanya. Benar kata pujangga bahwa “cinta itu buta”
Namun dalam perjalanannya, tidak semua pasangan mulus mengarungi ‘samudra’ kehidupan bersama. Berbagai alasan menjadi penyebab, pasangan memutuskan mengakhiri kebersamaan. Menjatuhkan talak atau menggugat cerai. Walaupun mereka telah dikarunia anak, yang pastinya akan menjadi korban dari keputusan orang tuanya itu. Apalagi umumnya, silaturahmi antar pasangan dan keluarganya terputus setelah perceraian. Itulah diantara sebab, mengapa perceraian dibenci Allah SWT. Meskipun dibolehkan (halal).
Memang ada yang tetap menjaga silaturahmi. tetap memberikan kasih sayang pada sang buah hati, meski tidak lagi satu atap. Tetapi jumlahnya sangat sedikit. Kebanyakan justru, saling membenci bahkan saling serang menyerang. Baik secara lisan maupun fisik. Segala yang indah yang dulu direguk bersama, tak lagi berada dalam ingatan. Berganti dengan pandangan ‘miring’ dan segala yang membuat penilaian minus.
Rasa kesal dan sakit hati atas pasangan terkadang berlarut. Meskipun kemudian, masing-masing sudah memilih jalan hidup bersama pasangan lain. Amarah dan rasa cemburu buta (umumunya jika pemicu perceraian adalah pihak ketiga) bersemayam dan menjadi dendam. Ketika tidak bisa mengendalikannya, akan menjadi sangat fatal. Pikiran jernih hilang, berganti dengan nafsu untuk melampiaskan kemarahan. Meskipun apa yang dilakukan itu merupakan perbuatan yang sangat dilarang. Baik oleh agama maupun oleh negara. Seperti pembunuhan misalnya.
Nafsu angkara demikian haruslah dienyahkan jauh-jauh dari kehidupan. Apalagi ketika mengimani bahwa segala yang terjadi telah digariskan. Ada takdir yang tak seorangpun mampu mengubahnya. Begitupun dengan perjalanan hidup dalam rumah tangga. Semua sudah ‘tercatat’ dan harus terjadi. Melainkan ambil hikmah dari kejadian itu. Karena yakinlah, Allah SWT memberikan yang terbaik. Dan menimpakan pada manusia sesuai dengan batas kemampuan yang dimilikinya. Wallahualam bisawab. (**)
Wassalam






