Assalamualaikum Wr.Wb
Oleh : Hery Maulana
Siapa yang tak ingin hidup bergelimang harta. Karenanya banyak yang berlomba untuk sampai kesana. Bahkan ada yang tidak peduli jalan untuk memperolehnya. Terpenting adalah, bagaimana dapat menimbun harta sebanyak-banyaknya. Meskipun harta yang dimiliki sudah demikian banyak. Tidak habis untuk tujuh turunan. Tetapi nafsu untuk terus memperolehnya semakin besar. Padahal ketika ajal menjemput, satu-satunya harta yang dibawa hanya kain kafan. Semua ditinggal dan berpotensi menjadi rebutan dan perselisihan antar ahli waris. Harta yang ditimbun berpuluh tahun, nyatanya hanya membawa petaka pada anak dan cucu yang ditinggalkan. Sementara dirinya juga bakal disibukkan dengan pertanggungjawaban “darimana harta itu didapatkan, dan untuk apa dipergunakan”
Inilah mengapa Islam mengajarkan sejatinya harta. Yakni harta yang bakal dibawa sampai ke alam akhirat. Bahkan harta itu menjadi amal yang mengalir sepanjang masa dan tak kan habisnya. harta yang dibelanjakan dijalan Allah SWT. Harta yang dengan ikhlas diberikan untuk kepentingan orang banyak. Tidak berharap imbalan didalamnya, hanya menginginkan ridho dari pemilik hidup. Memang harta itu berkurang didunia, tetapi sesungguhnya terus berkembang berupa pahala yang mengalir. Sepanjang bermanfaat bagi umat.
Pemahaman ini ditunjukan oleh seorang pengusaha sukses di Lampura, Hi.Yusuf Syahmin. Bersama ketua Yayasan Alkarim Rsyid Indoensia Asep Kholis, menggagas berdirinya Pondok Pesantren (Ponpes) moder. Ponpes yang akan mengajarkan Alqur’an dan Dakwah bagi santrinya. Utamnya mereka yang tidak memiliki kemampuan secara ekonomi untuk memperoleh pendidikan. Anak-anak yang ditinggal pergi orangtuanya menghadap Allah, anak yatim dan piatu.
Lahan seluas 3,5 Ha diwakafkan oleh Hi.Yusuf Syahmin. Tidak hanya itu pembangunan yang diperkirakan menelan biaya Rp.20 Miliar, juga menjadi pemikirannya. Sebuah jumlah yang sangat fantastis untuk orang kebanyakan. Tetapi justru itulah sejatinya harta yang dimiliki. Harta yang akan membantunya kelak. Walahualam bisawab (**)
Wassalam






