Oleh : Heri Maulana
Assalamualaikum wr wb
Bukannya empati masyarakat yang diterima atas kejadian yang menimpanya, korban asusila justru kerap menjadi gunjingan, dibully dan dikucilkan. Bahkan dari lingkungan terdekatnya. Seperti keluarga, kerabat dan teman-temannya. Tak sedikit juga yang menghina atau memandang rendah. Sebagai manusia ternoda yang masa depannya suram. Ada pula yang beranggapan, kejadian yang menimpanya itu sebagai sebuah kesialan yang bakal ‘menular’ jika berdekatan dengannya.
Pandangan minor ini sungguh tidak adil dan tidak manusiawi. Sebab tidak seorangpun menginginkan menjadi korban pencabulan atau pelecehan seksual. Terlebih jika korbannya anak dibawah umur. Mereka belum mengerti soal seksual dan bahaya asulia yang mengancamnya sewaktu-waktu. Mereka berada pada situasi sulit yang tidak dimengertinya. Kemudian, menjadi korban predator yang tidak peduli akan akibat atas pewrbuatannya itu.
Padahal selain luka fisik para korban juga mengalami gangguan psikis yang perlu waktu lama untuk pemulihannya. Tarumatik mendalam atas kejadian amat tragis, menjadi ‘momok’ menakutkan yang selalu membayangi jiwanya. Mantalnya menjadi terpuruk dan menjadi rendah diri. Tidak lagi percaya diri untuk bergaul sebagaimana sebelum menjadi korban.
Inilah mengapa Pemerintah memberikan perhatian khusus pada korban asusila. Memberikan pendampingan atau konseling dengan menempatkan spikolog untuk menyembuhkan traumatik itu. Walaupun cara tersebut belum sepenuhnya membuahkan hasil. Terlebih jika itu dilakukan secara temporer, tidak secara kontinyu dan konsisten. Apalagi jika lingkungan sekitar tidak mendukung. Mencibir dan merendahkan bahkan mengucilkannya. Maka proses pemulihan dimaksud akan semakin sulit. Walhasil, trauma mendalam para korban kerap membawa pada peralihan kejiwaan korban.
Keputusasaan, membawanya berprilaku lebih agresif dan pendendam. Atau sebaliknya menjadi sosok yang pendiam, menyendiri dan seperti tidak memiliki harapan. Lantas membawa kepada pemikiran nekat untuk mengakhiri hidup.
Karenanya bagaimana lingkungan memperlakukan korban menjadi sangat menentukan. Ketika masyarakat mau berempati dan memberikan dukungan dan motivasi, akan semakin memudahkan proses pemulihan. Para korban perlahan mulai dapat menerima apa yang menimpanya. Kemudian perlahan melupakan kejadian tragis yang menimpanya itu. (**)
Wassalam






