Menu

Mode Gelap
Wartawan AJNN Aceh Dilaporkan ke Polisi, Ini Sikap Tegas PJS Perhimpunan Jurnalis Siber Provinsi Lampung Resmi Dibentuk P3K Bakal Tak Diusulkan Lagi Pelajar SDN Handuyangratu Masih Belajar di Eks Balai Desa Disdikbud Persiapkan SDM Dalam Era Pembelajaran Digital

Beranda · 31 Okt 2021 21:27 WIB ·

Hukum Pasar


 Hukum Pasar Perbesar

Assalamualaikum Wr.Wb

Oleh : Hery Maulana

Dibawah tahun 90- an, Kabupaten Lampung Utara (Lampura), dikenal sebagai penghasil lada hitam berkualitas. Bahkan lada hitam asal Lampura, sampai Amerika Serikat. Tak heran ketika itu, status sosial warga Lampura bergantung pada berapa banyak lahan perkebunan lada yang dimilikinya. Semakin luas, maka semakin terpandanglah keluarga itu.

Pandangan ini patut dimaklumi, sebab ketika itu lada hitam dihargai cukup mahal. Untuk dua kilogramnya, hampir setara dengan satu gram emas. Karena warga setempat benar-benar merawat perkebunan lada yang umumnya merupakan warisan secara turun temurun.

Sayangnya ketika negara ini dilanda krisis moneter (krismon), harga lada hitam anjlok. Petani menjerit, karena mengalami kerugian besar. Harga jual tidak sebanding dengan biaya yang dikeluarkan untuk perawatan, pupuk, ongkos petik dan biaya lainya. Padahal petani sangat bergantung dengan hasil panen lada setiap tahunnya, untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Terlebih bagi petani yang harus menyekolahkan anaknya keluar daerah. Atau memiliki keperluan lain, semisal acara adat yang memang menghabiskan banyak biaya.

Pada saat bersamaan, bermunculan pabrik tepung tapioka. Tepung yang bahan dasarnya ubi kayu atau dikenal dengan sebutan singkong, rupanya menjadi bahan pokok berbagai produk. Tidak hanya terkait panganan, tetapi juga bahan kosmetik dan produk lain yang dibutuhkan.

Pada situasi ini, permintaan akan singkong sangat besar. Terang ini memicu harga komoditi tersebut menjadi mahal. Ketika dikalkulasikan, ternyata tanaman singkong jauh menguntungkan dari pada tanaman lada. Apalagi pada jenis tertentu, singkong dapat dipanen sebanyak dua kali dalam setahun.

Persoalannya adalah lahan yang luas. Semakin luas lahan, maka keuntungan yang diperoleh akan semakin besar. Petani lada mulai tergiur dan ‘nekat’ memberangus kebun lada yang telah turun temurun menghidupi keluarga. Mereka menggantinya dengan perkebunan singkong. Kondisi tersebut terus merambah ke petani lada lainnya. Sehingga hampir seluruh kebun lada di Lampura berganti dengan perkebunan singkong.

Apa yang terjadi selanjutnya bisa ditebak. Produksi singkong melimpah. Perusahaan atau pabrik tapioka mulai berulah. Harga dipatok rendah dengan potongan kadar air yang tinggi. Sehingga petani hanya dapat ‘ampas’ dari singkong yang dihasilkannya. Itupun harus mengantri berjam-jam bahkan berhari lamanya untuk pabrik dapat menerima hasil jerih payah mereka. Setelah pembayaran diterima, jangankan untung, untuk mengembalkan modal yang dikeluarkan saja nyaris tidak bisa.

Ada penyesalan dan ingin kembali pada perkebunan lada. Apalagi harga saat ini sudah mulai menggiurkan untuk keuntungan yang besar. Sementara pemerintah setempat, juga berkeinginan mengembalikan kejayaan lada hitam. Namun harus dipelajari dengan cermat dan hati-hati. Jangan sampai terjebak oleh permainan pasar. Sebab minimnya produksi ditengah kebutuhan besar akan komoditi tertentu, jelas akan memicu harga yang mahal. Tetapi apakah harga dimaksud akan konstan, jelas tidak. Hukum pasar akan berlaku. Permintaan besar, barang sedikit maka menjadi mahal. Sebaliknya barang melimpah permintaan sedikit, maka akan sangat murah. Ini PR pemerintah, untuk dapat menstabilkan harga komoditi yang dihasilkan. Sehingga petani kita tetap dapat menikmati hasil jerih payahnya. (**)

Wassalam

Artikel ini telah dibaca 10 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

29 April 2026 - 16:10 WIB

Dibantu Malah Jadi ‘Pekara’

26 Juli 2023 - 23:31 WIB

Ditindaklanjuti Kemana ?

29 Mei 2023 - 20:02 WIB

Bertambah Kuota, Jangan Tambah Biaya Dong….

15 Mei 2023 - 21:32 WIB

PIlkades Bersumber Dari Dua Mata Anggaran

14 Maret 2023 - 20:30 WIB

Perlunya Pengawasan Pemuktahiran Data

13 Maret 2023 - 19:41 WIB

Trending di Beranda