Oleh : Heri Maulana
Assalamualaikum wr wb
Pandemi covid-19 yang melanda, juga berdampak pada sistem pendidikan di tanah air, termasuk di Kabupaten Lampung Utara. Para siswa tidak lagi dapat bersekolah sebagaimana biasa. Karena sangat beresiko terpapar virus yang pertama kali ditemukan di Wuhan China itu.
Resiko terpapar, tidak hanya sewaktu berada di sekolah. Tetapi juga berpotensi terpapar dalam perjalanan menuju atau sepulang sekolah. Terlebih mayoritas anak didik menggunakan angkutan umum. Atau berjalan kaki secara romobongan dengan teman-temannya. Nah ketika ada diantaranya terpapar, maka jelas sangat mungkin virus itu akan menular pada yang lain.
Pemikiran itulah yang kemudian membawa kebijakan untuk menerapkan sekolah dirumah, dengan cara pembelajaran daring (dalam jaringan). Meski diakui, pada sistem daring banyak kelemahan-kelemahan. Dari soal ketersediaan perangkat androit bagi siswa, jaringan internet buruk atau wilayah tanpa jaringan, hingga tingkat serapan ilmu yang disampaikan guru pada siswa.
Untuk persoalan ketersediaan perangkat, meski dengan upaya ekstra keras orang tua berusaha memenuhinya. Sementara jaringan internet, pemerintah berupaya meningkatkan kualitas dan memperlebar luasan jangkaun. Pemerintah juga mensubsidi kuota bagi siswa, agar proses belajar tidak terhambat.
Namun yang menjadi masalah terbesar adalah, serapan siswa atas sistem ini rendah. Bahkan diantaranya tidak begitu mengikuti pembelajaran, melainkan hanya bermain game. Siswa yang tergolong rajin, merasakan sistem daring tidak begitu dapat ditangkap secara utuh. Ketika jaringan mengalami gangguan, maka apa yang disampaikan guru menjadi tidak jelas. Selain juga, siswa tidak leluasa berinteraksi dengan guru sebagaimana jika Pembelajaran Tatap Muka. Bagi sekolah sendiri, tidak bertatapan langsung, tidak dapat mengetahui bagaimana tingkat keseriusan siswa mengikuti pelajaran.
Itulah mengapa baik guru, orang tua dan juga siswa sangat menginginkan PTM. Sayang, PTM yang diberlakukan kembali harus dibatalkan karena pandemi yang masih mengancam. Meskipun Lampura belum ditemukan kasus baru, namun Pemerintah tidak ingin konyol. Apalagi belakangan ditemukan varian baru. Pemkab setempat begitu hati-hati dan mencermati situasi dan kemungkinan-kemungkinan yang bakal terjadi jika PTM digelar. Mulai memberlakukan PTM 50 persen dan memperketat prokes.
Alhamdulillah, tidak ditemukan kasus baru. Ini yang membuat Disdikbud berencana meningkatkan PTM secara penuh dengan tetap menerapkan prokes ketat. (**)
Wassalam






