Assalamualaikum Wr.Wb
Oleh : Hery Maulana
Setelah dihadapkan pada harga minyak goreng melonjak tajam, kini masyarakat dihadapkan pada persoalan kelangkaan dipasaran. Situasi ini hampir terjadi diseluruh wilauah Indonesia, termasuk di Lampung Utara.
Saat terjadi lonjakan harga, Pemerintah akhirnya mengeluarkan kebijakan minyak goreng satu harga, yakni Rp14.000 perliter. Pendistribusiannya melalui ritel modern dan pasar tradisional sejak Rabu (19/1).
Sayangnya kebijakan Pemerintah itu justru tidak berjalan sesuai harapan. Banyak masyarakat yang belum memperoleh minyak goreng, lantaran distribusi kedaerah yang sangat terbatas. Ritel modern yang ditunjuk, juga kewalahan mendapatkan ‘serangan’ warga. Suplai yang diterima tidak sebanding dengan permintaan. Justru kemudian, minyak goreng menghilang dari pasaran. Disejumlah tempat malahan sudah tidak lagi dapat ditemukan alias langka.
Disis lain, Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia tidak merasa bertanggungjawab atas kelangkaan itu. Dilansir dari Kompas.com, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Roy Nicholas Mandey mengatakan, kelangkaan minyak goreng di ritel modern bukan tanggung jawab Aprindo melainkan pihak distributor dan produsen. Dia menyebut Aprindo hanya penyedia tempat untuk distribusi bukan pemasok. “Masalahnya bukan di ritel, karena ritel enggak bisa produksi minyak. Masalahnya itu di pasokan para distributor,” kata Roy.
Dia menilai pihak distributor dan produsen tidak menjalankan komitmennya dalam mendukung program pemerintah, sehingga pasokan ke ritel menjadi terbatas. Sementara itu, Direktur Jenderal Perlindungan Konsumen dan Tata Tertib Niaga (PKTN) Kementerian Perdagangan Veri Anggrijono mengatakan, langkanya minyak goreng Rp 14.000 per liter di pasar lantaran adanya panic buying dari masyarakat.
Lihat aja meskipun pembeliannya sudah dibatasi 2 pouch per orang tapi ada aja yang keluarga lain yang disuruh untuk membeli padahal masih satu keluarga, jadi satu keluarga itu bisa beli minyak goreng sampai 10 liter. Hal inilah menurut dia, yang menyebabkan berapa banyak pun pihak ritel menjual minyak goreng di tokonya tetap akan habis.
Apapun alasannya, yang jelas masyarakat mulai cemas. Bagaimana memenuhi kebutuhan akan minyak goreng. Kecemasan ini harus segera diatasi. Bukan dengan berkilah dan saling menyalahkan. Tetapi dengan sebuah kebijakan kongkrit. Jangan sampai kecemasan itu menjadi sebuah kepanikan yang dapat membuat situasi dan kondisi tidak kondusif. Harus ada cara agar ketersediaan minyak goreng cukup. Bukankah negara ini merupakan negara dengan penghasil kelapa sawit atau crude palm oil (CPO) terbesar didunia. Lantas mengapa warganya sulit mendapatkan minyak goreng yang dibuat minyak sawit atau CPO ? Sungguh tragis. (**)
Wassalam






