Assalamualaikum Wr.Wb
Oleh : Hery Maulana
Korupsi, memang harus dihindari. Karena terlibat didalamnya, menyebabkan multi efek. Baik pada bangsa dan negara maupun, diri pribadi dan keluarga. Hidup menjadi tidak tenang dan pada gilirannya, harus mempertanggungjawabkan secara hukum. Mengganti kerugian negara, harta benda disita dan menjalani hukuman kurungan untuk waktu yang lama. Belum lagi sanksi sosial yang terus mendera bahkan mungkin hingga akhir hayat. Stempel koruptor akan terus melekat dan disematkan. Menjadi cemooh berkepanjangan, terhadap pribadi, keluarga, teman dan juga lingkungan. Karir, status sosial dan segala puja-puji juga terhenti.
Tidak berhenti disitu, terjerat korupsi membawa malapetaka seakan tak berkesudahan. Seperti sebuah kutukan. Bagaimana teman dekat, rekan kerja, bawahan atau atasan juga keluarga, tidak lagi sejalan. Ketika proses hukum berjalan, justru dari merekalah kasus yang semula samar menjadi terang. Bahkan dengan lantang membeberkan bagaimana korupsi itu dilakukan. Tak peduli keterangan yang disampaikan itu, semakin menyudutkan. Semua itu dilakukan tidak lain, sebagai upayanya agar tidak terlibat. Istilah yang biasa digunakan, Selamatkan Diri Masin-masing (SDM).
Persaudaraan, pertemanan dan hubungan emosional lainnya, saat itu tidak lagi ada. Berganti dengan saling serang satu sama lain. Walaupun korupsi itu dilakukan secara bersama-sama. Tetapi kekhawatiran akan terjerat, membuat semua itu pupus. Berganti dengan upaya bersih diri.
Lihat saja persidangan mantan bupati Lampura Agung Ilmu Mangkunegara. Bagaimana ia dan Syahbudin saling ‘serang’. Padahal tadinya mereka demikian mesra. Maklum Syahbudin diberi kepercayaan menjabat sebagai Kadis PUPR Lampura. Dapat dimaklumi, keduanya yang terseret pusaran korupsi berupaya ‘lolos’. paling tidak mendapatkan hukuman yang seringan-ringannya.
Pada persidangan adiknya Akbar, Agung secara gamblang menyebut besaran fee proyek yang dipungut atas saran Taufik. Taufiklah yang menentukan besaran setoran 20-25 persen pada proyek PUPR. Sebuah keterangan yang secara jelas menyebutkan bagaimana keterlibatan Taufik. Padahal Taufik adalah saudara angkatnya. Taufik dan Agung begitu dekat dan mesra. Namun ‘kutukan’ korupsi, membuat keduanya justru saling memojokkan. Kebersamaan dan perjuangan yang terjalin seperti tak berbekas. Demikian dahsyatnya ‘kutukan’ korupsi. (**)
Wassalam






