Menu

Mode Gelap
Wartawan AJNN Aceh Dilaporkan ke Polisi, Ini Sikap Tegas PJS Perhimpunan Jurnalis Siber Provinsi Lampung Resmi Dibentuk P3K Bakal Tak Diusulkan Lagi Pelajar SDN Handuyangratu Masih Belajar di Eks Balai Desa Disdikbud Persiapkan SDM Dalam Era Pembelajaran Digital

Beranda · 20 Feb 2022 19:18 WIB ·

Kaya CPO, Miskin Migor


 Kaya CPO, Miskin Migor Perbesar

Assalamualaikum Wr.Wb

Oleh : Hery Maulana

Minyak goreng, kini benar-benar langka. Pasar modern maupun pasar tradisional, tidak lagi menjual. Begitu juga dengan warung-warung yang banyak tersebar dekat pemukiman warga. Alasanya, pasokan minyak goreng sudah terhenti sejak dua minggu terakhir.

Namun ketika ditelusuri lebih mendalam, terdapat sejumlah toko atau warung yang masih menjual minyak goreng. Tentu dengan harga hampir dua kali lipat, dari harga Operasi Pasar (OP), Rp.14 ribu per liter. Itupun pembelian dengan persyaratan yang ditentukan penjual. Seperti harus membeli minimal 2 liter. Ada menyertakan dengan komoditi lain, semisal terigu atau gula. Diistilahkan paketan !.

Rupanya para pedagang memanfaatkan momen kelangkaan minyak goreng itu untuk meraup keuantungan lebih besar. Pedagang paham betul, jika minyak goreng bakal diburu masyarakat. Tak peduli berapapun harganya dan syarat yang harus dipenuhi. Sebab disadari, keberadaan minyak goreng sudah seperti hantu. Sesaat ia muncul disuatu tempat, tak lama kemudian menghilang. Lalu muncul lagi ditempat lain.

Ini hanya pemikiran sederhana pedagang lokal dalam meraup keuntungan berlebih dibalik kelangkaan minyak goreng. Lantas bagaimana dengan pemikiran seorang pebisnis tulen. Tentu akan luas dan lebih ‘gila’ lagi. Dengan kekuatan modalnya, dapat membeli dalam jumlah besar dan menimbunnya. Kemudian menjualnya dengan harga yang tinggi. tak peduli prilakunya itu akan membuat minyak goreng semakin langka dan sulit didapat.

Nah manakala itu terjadi untuk level yang lebih tinggi lagi atau berskala nasional, maka persoalan kelangkaan minyak menjadi semakin pelik. Karena penimbunan hanya salah satu sebab, tetapi bukan satu-satunya. Ada persoalan yang jauh lebih besar dari itu. Ada kebijakan pemerintah yang salah terkait CPO atau minyak sawit. Sebab sebagai negara penghasil CPO terbesar dunia, mestinya rakyat tidak lagi dipusingkan dengan ketersediaan minyak goreng. Negara yang lahannya dipenuhi oleh kebun sawit, justru tak mampu memenuhi kebutuhan minyak goreng rakyatnya.

Karenanya disibukkan dengan persoalan penimbunan tidak akan mengakhiri derita rakyat. Karena penimbunan bakal berulang dan berulang lagi. Begitupun dengan model Operasi Pasar. Dengan jumlah yang sangat kecil, OP hanya akan menimbulkan masalah baru. Kecemburuan sosial dan saling desak untuk memperoleh barang. Keselamatan dan potensi terpapar covid-19 terabaikan dengan semangat memperoleh minyak goreng. Justru yang lebih utama, mengurai akar persoalan. Mungkin terkait ekspor CPO yang mengabaikan kebutuhan konsumsi dalam negeri. Atau pembagian besaran CPO untuk konsumsi dan untuk biosolar. Apa yang menjadi pokok persoalan, hanya Pemerintah yang tahu. Tetapi sangat miris, jika rakyat dinegeri kaya CPO tak bisa dapatkan minyak goreng. Seperti tikus yang mati ditumpukan jerami. (**)

Wassalam

Artikel ini telah dibaca 5 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Dibantu Malah Jadi ‘Pekara’

26 Juli 2023 - 23:31 WIB

Ditindaklanjuti Kemana ?

29 Mei 2023 - 20:02 WIB

Bertambah Kuota, Jangan Tambah Biaya Dong….

15 Mei 2023 - 21:32 WIB

PIlkades Bersumber Dari Dua Mata Anggaran

14 Maret 2023 - 20:30 WIB

Perlunya Pengawasan Pemuktahiran Data

13 Maret 2023 - 19:41 WIB

Pentingnya Pendampingan Anak Korban Banjir

12 Maret 2023 - 17:20 WIB

Trending di Beranda