Assalamualaikum Wr.Wb
Oleh : Hery Maulana
Tampaknya bupati Lampung Utara, Budi Utomo, tidak ingin lama-lama menerima ‘bola panas’ Pilwabup. Hanya sehari setelah menerima dua nama calon wakil bupati (wabup) yang disampaikan koalisi partai politik (parpol) pengusung, Bupati langsung menyampaikannya kepada DPRD setempat.
Sikap bupati itu sebagai bukti bahwa dirinya serius agar Pilwabup segera digelar. Tidak seperti yang disangkakan, bahwa bupati merasa lebih nyaman memerintah sendiri. Sehingga berupaya menghambat proses Pilwabup, sebisanya.
Secara kasat mata, sikap bupati itu dapat dibilang mengkonfirmasi keseriusannya. Begitu parpol berhasil mengkerucut pada dua nama calon dan telah secara resmi disampaikan, bupati langsung menyampaikannya pada DPRD.
Namun terlalu gegabah jika hanya itu yang dijadikan parameter. Karena perjalanan untuk sampai pada dua nama calon wabup, sangat panjang, terjal dan berliku. Butuh tiga surat resmi yang dilayangkan gubernur Lampung, untuk mengingatkan bupati agar segera menggelar Pilwabup. Butuh waktu satu tahun empat bulan, jika dihitung dari waktu pelantikan Budi Utomo sebagai bupati Lampung Utara pada 3 November 2020 lalu. Butuh merevisi rekomendasi diantara parpol yang sudah terlanjur mengeluarkan rekomendasi pada sosok yang diunggulkan. Juga mengusik ketentraman publik dengan polemik yang tak berkesudahan.
Padahal berkaca pada Kabupaten/kota lain dalam mengisi kekosongan wabup, tidak terlampau rumit dan dalam waktu yang relatif singkat. Benar situasi dan kondisi politik di daerah lain, berbeda dengan Lampung Utara. Tetapi yang pasti, kepala daerah dalam hal ini bupati atau walikota berperan sangat aktif. Koalisi partai pengusung, tidak dibiarkan ‘bertikai’ sendiri. Tetapi bersama-sama bupati, mengkerucutkan dua nama calon yang bakal diusulkan untuk dipilih DPRD. Tentu segala konsekwensi sepenuhnya ditanggung oleh sang bupati. Karena memang pada dasarnya, yang paling berkepentingan adalah bupati. Sebab bupati yang akan berdampingan dengan wabup dalam menjalankan sisa periode jabatan.
Jika dibandingkan dengan itu, patut dipertanyakan keseriusan bupati Lampura soal pengisian jabatan wabup. Hanya memang, bupati telah sampai pada sudut yang tidak dapat dielakkan. Soal dua nama calon sudah dirampungkan oleh parpol pengusung dan telah disampaikan. Padahal secara matematis, mustahil parpol dapat sampai pada kesimpulan itu. Dalam posisi ini, andai bupati masih tidak terlihat serius, terang akan berpengaruh pada posisinya. Baik secara politik maupun sosial kemasyarakatan. Itulah mungkin mengapa bupati tampak begitu sigap. Karena sudah berada pada posisi yang tidak lagi menguntungkan. Ibarat ‘maju kena, mundur juga kena’. (**)
Wassalam






