Assalamualaikum Wr.Wb
Oleh : Hery Maulana
Tidak ada lawan dan kawan abadi dalam politik, yang ada hanyalah kepentingan abadi. Hari ini bisa jadi kawan, besok atau lusa mungkin jadi lawan politiknya. Karena memang politik sarat dengan unsur kepentingan didalamnya. Mana yang menguntungkan mana yang merugikan. Baik untuk pribadi maupun kelompoknya.
Ini yang disadari seorang Yusrizal, ST politisi yang memulai karir politiknya sejak SBY membesut Partai Demokrat. Yusrizal merupakan salah satu pendiri Partai Demokrat di Kabupaten Lampung Utara. Partai itu yang menghantarnya menjadi anggota DPRD Provinsi Lampung pada Pemilu 2004 lalu. Pada gelaran Pemilu berikutnya tahun 2009, Yusrizal yang dipercaya memimpin DPC Partai Demokrat Lampung Utara, sukses menjadikan partai tersebut pemenang Pemilu. Insting politisinya membawa langkahnya tidak mencalonkan diri kembali pada DPRD Provinsi kala itu, membuatnya sukses duduki kursi ketua DPRD Lampung Utara.
Pada Pemilu 2014, Yusrizal kembali membuktikan kepiawaiannya dalam memimpin Partai Demokrat. Partai itu menjadi runner up dan dirinya duduk dikursi wakil ketua I DPRD Lampura.
Pada Pemilu 2019 lalu, lagi-lagi Yusrizal membawa Partai Demokrat menjadi Pemenang Pemilu di Kabupaten Lampung Utara. Meskipun itu harus dibayarnya dengan harga sangat mahal. Perolehan suaranya tidak mencukupi untuk dirinya kembali memasuki gedung Parlemen. Karena pada Daerah Pemilihan (DP) tempatnya mencalonkan diri, tiga kursi diperoleh Partai Demokrat. Sebagai Pemenang Pemilu, tentu saja kursi ketua DPRD kembali ketangan Partai Demokrat.
Karenanya Partai Demokrat di Lampung Utara menjadi partai terbesar yang disegani dan dihormati, juga menjadi ‘seksi’. Banyak yang melirik Partai tersebut dan ingin bergabung menjadi pengurus inti. Tentu dengan beragam tawaran didalamnya. Hanya saja Yusrizal tidak ingin merusak soliditas dan tatanan yang dengan susah payah dibangun. Baginya pengurus dan kader partai adalah keluarga, yang tidak boleh terbelah apalagi terpisah. Itu diantara kunci sukses membuat partai tersebut besar dan menjadi pemenang Pemilu.
Namun politik itu dinamis, seiring dengan situasi dan kondisi perpolitikan tanah air. Ada banyak konflik yang menerpa partai politik, tidak terkecuali Partai Demokrat. Utamanyanya pada level elit. Ini ‘memaksa’ elit parpol bermanuver dan mengeluarkan kebijakan. Meskipun kebijakan yang dikeluarkan itu merupakan hara kiri. Menginterupsi program strategis pada level partai dibawahnya. Melakukan perombakan besar Kepengurusan Daerah. Lampung salah satunya !. Ridho Ficardo, mantan gubernur Lampung harus merelakan jabatan ketua DPD Demokrat digantikan Edy Irawan. Pun begitu dengan Yusrizal yang harus terdepak dari jabatannya sebagai ketua DPC Demokrat Lampung Utara, digantikan oleh Wansori.
Pergantian tampuk pemimpin dan kepengurusan pada sebuah partai politik memang sebuah kewajaran. Sebab ada banyak pertimbangan didalamnya. Termasuk pertimbangan yang bagi masyarakat awam tidak masuk akal. Tetapi itulah politik !.
Kesadaran itulah yang membuat Yusrizal tetap tegar, ketika menyampaikan permintaan maafnya pada pengurus dan kader Partai Demokrat dari 23 Kecamatan yang hadir dikediamannya dalam acara silaturahmi dan berbuka puasa bersama Sabtu (23/4). Manakala selama memimpin ada kekurangan dan kesalahan. Ditegaskan jika dirinya hanya hengkang dari partai itu, tetapi tidak pergi dari persaudaraa dan kekerabatan yang telah dirajut bersama. (**)
Wassalam






