Assalamualaikum Wr.Wb
Oleh : Hery Maulana
Harga minyak goreng curah belum juga turun, seperti yang dijanjikan Pemerintah. Bahkan Mendag yang baru, Zukifli Hasan menjamin harga minyak goreng curah akan stabil pada Harga Rp. 14.000 per-liter. Namun kenyataannya, masyarakat belum menemukan ada minyak goreng curah seharga itu. Bahkan minyak goreng curah masih cukup sulit ditemukan dipasaran.
Belum tuntasnya persoalan minyak goreng, masyarakat dihadapkan oleh melambungnya harga kebutuhan lain, termasuk sayur-sayuran. Harga cabai merah keriting yang semula kisaran Rp.40 ribu, kini mencapai Rp.90-100 ribu. Kenaikan fantastis juga terjadi pada komoditi bawang, tomat dan sayuran lainnya. Begitu pula dengan daging, ayam dan telur.
Tentu saja kondisi ini dikeluhkan para emak-emak, yang terpaksa merogoh koceknya lebih dalam untuk memenuhi kebutuhan harianya. Atau terpaksa mengurangi jumlah kebutuhan dapurnya.
Disisi lain, naiknya harga minyak goreng dan kebutuhan pokok tersebut, cukup membuat kesulitan pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM). Modal yang harus dikeluarkan menjadi membengkak. Jika produknya dijual dengan harga lama, maka dipastikan akan merugi dan gulung tikar. Menaikan harga, berpotensi membuat dagangannya menjadi sepi. Begitu pula jika mengurangi jumlah bahan baku, akan berpengaruh pada kualitas dan membuat pelanggan ‘lari’.
Sementara saat ini menghadapi hari raya idul adha (lebaran haji). Dimana menjadi kebiasaan setiap menjelang lebaran, harga kebutuhan pokok akan merangkak naik. Artinya situasi melambungnya harga saat ini, tidak akan terkendali sampai lebaran tiba. Bahkan dimungkinkan akan terjadi kenaikan.
Sebuah PR bagi pemerintah untuk segera menstabilkan harga. Karena masyarakat sudah benar-benar kewalahan. Terlebih pandemi sudah meluluhlantakkan perekonomian mereka. (**)
Wassalam






