Assalamualaikum Wr. Wb….
Oleh : Riduan
Kejayaan perkebunan lada di Kabupaten Lampung Utara(Lampura), dahulu jadi komoditas andalan. Bahkan, menjadi komoditas eksport dalam peningkatan kesejahteraan rakyat. Namun rendahnya harga jual lada hitam di masa itu, menjadi tak terkendali, harga lada hitam yang murah menjadi penyebab para pekebun lada mengalihfungsikan lahannya ke sektor lain.
Ada yang menjadikannya perkebunan singkong, ada yang mengalokasikan lahannya menjadi perkebunan sawit, atau karet. Bahkan factor panen lada berbeda dengan factor tanam singkong. Jika lada setahun sekali panen dengan harga yang minimalis, bila bertanam singkong masa panen bisa terjadi dua kali dalam setahun.
Ini yang membuat para perkebunan atau petani mengalihfungsikan lahan nya menjadi perkebunan singkong, sawit atau tanaman perkebunan karet.
Dengan kebijakan Kementerian Pertanian RI melalui Direktorat Jenderal (Ditjend) Perkebunan, bekerjasama dengan Dinas Pertanian Provinsi Lampung dan Dinas Pertanian Lampura, berupaya menumbuhkembangkan koorporasi lada hitam dapat terwujud.
Bahkan, saat ini tim dari Fakultas Geografi UGM datang ke Kabupaten Lampung Utara, dalam rangka upaya menumbuhkan semangat baru bagi para petani perkebunan lada hitam. Agar berkomitmen mengembangkan tanaman lada sebagai eksport yang pernah menjadi komoditas unggulan Lampung Utara.
Wajib kita bangga dengan upaya itu, namun harus juga dipertimbangkan sejauh mana peran pemerintah daerah, provinsi, ataupun pusat dalam menstabilkan harga jual lada yang hanya bisa dilakukan setahun sekali.
Wassalamualaikum Wr. Wb…..






