Assalamualaikum Wr.Wb
Oleh : Hery Maulana
Ketika Partai Politik (Parpol) pengusung pasangan Agung-Budi (ABDI) Pada Pilkada Lampung Utara (Lampura) lalu, berhasil menyatukan pandangan dan sampai pada dua nama bakal calon wakil bupati, yang akan diusulkan, banyak tokoh bahkan publik mengacungi jempol. Sebab dalam logika politik, sangat sulit bahkan mustahil dilakukan. Karena empat parpol pengusung (Gerindra, Nasdem, PKS dan PAN), harus bergerak sendiri. Tanpa arahan atau kisi-kisi dari bupati Budi Utomo. Siapa sejatinya yang diingikannya untuk mendampinginya selama sisa masa jabatan.
Sementara dilain pihak, ada sejumlah tokoh parpol yang kadung digadang-gadang bakal diusulkan. Bahkan diantaranya sudah ada yang mengantongi rekomendasi dari DPP partainya. Namun, semua ambisi dan kepentingan itu dapat larut, bersama sebuah kesepahaman, calon yang bakal diusulkan adalah Ardian Saputra. Putra mantan bupati Lampura Zainal Abidin itu, dianggap sosok yang mampu menjadi perekat sekaligus pendobrak kebuntuan terkait wabup yang sudah terkatung-katung lama.
Lantas upaya parpol itu ditindaklanjuti oleh Bupati Lampura dengan menyampaikannya pada DPRD setempat. DPRD kemudian membuka tahapan-tahapan Pilwabup hingga penetapan dua calon yang akan dipilih dari proses pencoblosan pada sidang paripurna DPRD Lampura.
Saat itu ada kesan DPRD Lampura, begitu serius dan tranparan dalam melaksanakan tahapan-tahapan pemilihan. Bahkan dipenghujung, Pimpinan DPRD bersama anggota lainnya langsung menggelar simulasi. Mereka tidak ingin ada kesalahan dalam proses pemilihan. Selain ingin menunjukkan bagaimana mereka begitu tranparan, tidak ada yang ditutup-tutupi.
Hanya saja, publik menjadi tercengang ketika mendapati hasil penghitungan suara. Dari 43 anggota DPRD Lampura yang hadir, seluruhnya diberikan pada Ardian Saputra. Pesaingnya William Mamora sama sekali tidak memperoleh suara. Padahal William merupakan kader Partai Gerindra yang juga direkomendasikan oleh partai tersebut. Sementara ada enam anggota DPRD Lampura yang berasal dari Gerindra. Dengan begitu tidak satupun anggota yang berasal dari Gerindra yang mendukung koleganya.
Bisik-bisik disebutkan jika William hanya sebagai ‘calon pendamping’. Karena syaratnya harus dua calon tidak boleh calon tunggal. Tetapi harusnya dapat mempertontonkan politik yang berkualitas. Meskipun itu hanya sebuah ‘dagelan’, paling tidak yang masuk akal sehat. Toh meskipun keenam anggota itu memberikan hak suaranya pada kades internalnya, tidak akan membuat posisi pemenang berubah. Sementara disadari atau tidak, William akan tercatat, sebagai calon wakil bupati yang tak memperoleh suara, meskipun dari koleganya sendiri. (**)
Wassalam






