Assalamualaikum Wr. Wb
Oleh : Riduan
Harga komoditas singkong yang menjadi andalan masyarakat di kabupaten Lampung Utara menjadi tidak menentu dan turun drastis, membuat para petani mengeluh.
Membuat DPRD bersama Pemkab Lampura turun lapangan, untuk mengecek harga jual yang sebenarnya, sehingga dapat menjawab keluhan masyarakat. Dari awalnya harga pada bulan Agustus sebesar Rp 1.800, menjadi, 1.600, lalu menjadi Rp 1.300, belum lagi tingginya potongan harga yang dikenakan pabrik, hingganya penghasilan bersil yang diterima petani hanya berada pada kisaran Rp 900. Tentunya harga tersebut tidak sebanding dengan tingginya harga pupuk, ditambah lagi ongkos perawatan, ongkos cabut dan ongkos angkut.
Banyak spekulan yang mencul akan sebab turunnya harga singkong ini, bisa akibat lonjakan hasil panen petani, turunnya harga komoditas lain. Atau bisa karena adanya permainan ditingkatan pabrik dalam meraup keuntungan yang sebesar – besarnya.
Disinilah peran pemerintah daerah dalam upaya mempertahankan harga komoditas singkong yang kini menjadi andalam masyarakat Lampura. Terlebih, saat ini hampir semua lahan milik masyarakat telah diubah menjadi lahan perkebunan singkong.
Masyarakat berharap, harga singkong dapat stabil kembali, sehingga dapat menopang penghidupan mereka agar lebih sejahtera.
Wassalamualaikum Wr. Wb






